Skip to main content

Luncurkan Buku “Pink Jilbaber”, Dr. Wirda Hanya Butuh Setengah Bulan Untuk Menulis


FAMNews, Banten - Dr. Wirdanengsih. M.Si. dosen Universitas Negeri Padang kelahiran Bukit Tinggi,  8 Mei 1971 ini baru saja meluncurkan buku Pink Jilbaber. Dikatakan Dr. Wirdanengsih, buku tersebut ia tulis dengan jangka waktu satu setengah bulan, yang ia tulis setiap hari disela-sela kesibukannya sebagai dosen pengampu mata kuliah antropologi pendidikan dan antropologi ekologi tersebut.

“Tokoh yang berkesempatan membedah buku saya ialah dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yang sekaligus tokoh masyarakat komplek masjid Ciceri indah dan ketua lembaga organisasi kemahasiswaan ekstra kampus,” ujar Dr. Wirdanengsih saat dihubungi Tim Media FAM, Kamis (10/10/2018).


Dalam ide bedah buku, penulis buku kearifan lokal Minangkabau ini didukung oleh organisasi ekstra kampus KOHATI Serang, komisariat tarbiyah yang bekerja sama dengan asrama Puteri El Zahira. Bedah buku yang dilaksanakan Jumat (5/10/2018) di Serang, Banten ini dihadiri oleh 100 peserta, diantaranya dari majelis taklim komplek Ciceri Indah, mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Hasanuddin, serta beberapa siswa sekolah menengah atas di Serang.


Penulis buku khatam Quran For Children, Mozaik Cermin Negeri, Jejak Keluarga, dan Mozaik Sosial Budaya Anak Indonesia ini juga berharap bahwa dengan menulis  adalah suatu  kebutuhan hidup dan kewajiban diri untuk berpartisipasi dalam pembangunan lewat pena. [Tim Media FAM]


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…