• Info Terkini

    Friday, November 9, 2018

    Aku Berpikir Maka Aku Menulis


    Oleh: Fadhil Sofian Hadi


    Kutipan judul di atas sebenarnya terinspirasi dari ungkapan seorang tokoh filsuf kenamaan Perancis, Rene Descartes (m.1650) Cogito ergo sum ‘Aku berpikir maka aku ada’ pungkasnya. Ekspresi ini sudah tidak asing bagi para mahasiswa atau dosen filsafat. Akan sangat kontras pengertian ungkapan tersebut dengan kepalan tajuk yang akan penulis coba elaborasikan dalam beberapa paragraf selanjutnya. Tentunya dalam konteks bagaimana melatih ketekunan atau menumbuhkan semangat menulis dalam diri kita. Mengingat kesadaran berpikir itu erat kaitannya dengan kesadaran menulis. Hanya saja, beberapa dari kita seolah-olah tidak mau menerjemahkan kata ‘berpikir’ itu kedalam makna yang sebenaranya, yaitu ‘menulis’ apa yang dipikirkannya. 

    Di dalam mempelajari bahasa Arab atau bahasa Inggris, maka akan kita temukan empat skill [أربع مهارات] the four skills of language yang umumnya masing-masing kita telah pelajari dan telah kita hafal di luar kepala. Keterampilan pertama, [مَهَارَةُ اْلإِسْتِمَاعِ] listening, mendengar. Kedua, [مَهَارَةُ الْكَلَامِ] speaking, berbicara. Ketiga, [مَهَارَةُ الْقِرَاءَةِ] reading, membaca. dan yang terakhir adalah keterampilan [مَهَارَةُ الْكِتَابَةِ] writing, menulis. Dari keempat skill tersebut, dua keterampilan terakhir membaca dan menulis merupakan kecakapan yang paling berpengaruh dalam mengolah sumber apa yang didengar dan apa yang dibicarakan, sehingga membentuk struktur cara berpikir yang sesuai kaidah untuk lebih mudah di tuangkan dalam bentuk tulisan.

    Berpikir merupakan aktivitas nalar dalam rangkan melatih daya kerja akal dalam memproses apa yang didengar, apa yang diucapkan dan apa yang dibaca. Tentunya berpikir juga memerlukan latihan agar terbiasa dan terlatih. Tidak jauh beda dengan keterampilan menulis, ketekunan menjadi syarat nomor wahid jika harus diurutkan. Berpikir merupakan bukti eksistensi kuat untuk membuktikan bahwa nalar otak sesorang berfungsi. Seyogyanya demikian, melihat kepada bukti sejarah buah dari aktifitas berpikir yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Lihatlah inskripsi-inskripsi, manuskrip-manuskrip atau prasasti-prasasti kuno betapa tulisan telah ditemukan dan meninggalkan jejak para pemikirnya. Naskah-naskah kuno yang menjadi kajian filologi memberikan sinyal bahwa tulisan-tulisan manuskrip yang ditemukan membantu mereka melacak perjalanan pemikiran masa silam.

    Eksistensi pemikiran yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan memberikan kekekalan kepada penulisnya. Kekal bukan berarti tidak mati, namun jejak pemikiran penulisnya masih hidup dan akan terus dibaca sekalipun ia telah ditelan bumi. Akan berbeda dengan pemikiran yang tidak disalin ke dalam tulisan, maka dapat diterawang eksistensi pemikirannya mungkin akan sulit digali dan dilacak. Fakta sejarah kekalahan Amerika dalam perang Vietnam [1 Nov 1955 – 30 April 1975] Agung Pribadi dalam bukunya “Gara-Gara Indonesia” menulis sebab kekalahan Amerika, karena pimpinan geriliyawan Vietcong telah membaca buah pikiran dari Jendral AH Nasution asal Indonesia, yang dituangkan dalam buku fenomenalnya “Pokok-Pokok Perang Gerilya.” Luar biasa!

    Para pembaca yang budiman, tak dapat disangkal kekuatan tulisan memberikan pengaruh besar kepada pembacanya. Jika saja para ulama Muslim tidak menuangkan hasil pikiran [cogito] mereka dalam sebuah tulisan, maka bangsa Eropa hinggga saat ini pasti masih dalam masa kegelapan. Apa yang dilakukan oleh bangsa Eropa ketika kejayaan Islam [abad pertengahan] dan Eropa ketika dalam [dark ages] 'masa kegelapan’ adalah menyalin manuskrip-manuskrip tulisan pemikir-pemikir Muslim ke dalam bahasa mereka. Namun sayangnya mereka tidak fair dengan tidak menyantumkan geneologi terhadap salinan pemikiran muslim yang mereka copy. Sehingga ketika Muslim mengalami kemunduran, mereka dengan leluasa mengklaim temuan tersebut sebagai hasil dari penemuan mereka. Hal ini dapat dilihat di video ‘1001 Inventions and The Library of Secrets.’ 

    Fernando Baez seorang penulis sekaligus peneliti berkebangsaan Venzuela dalam bukunya “Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa” dia menggambarkan bagaimana buku-buku hasil dari pemikiran para tokoh dimusnahkan. Buku-buku itu dihancurkan dan dibakar. Hingga ketika invasi Amerika (2003) ke Irak (Bagdad) perpustakaan bersejarah milik Muslim dan buku-buku hasil dari pemikiran para tokoh Muslim dunia dihancurkan sebagiannya lagi di ‘curi’ dan dipindahkan ke perpustakaan-perpustakaan mereka (Amerika) dan Eropa. Sebuah konspirasi kejahatan perang dan kejahatan di dunia intelektual yang tidak beradab terang Baez. Dan masih banyak lagi kisah pertarungan berdarah dalam upaya pemusnahan buku oleh para penjajah intelektual.

    “Aku Berpikir Maka Aku Menulis” merupakan jargon pejuang intelektual sejati yang harus sering dipaksakan ke dalam cara pikir dan cara pandang kita. Menulis apa yang kita pikirkan itu merupakan bukti eksistensi nalar yang kita miliki. Sudah banyak tokoh yang telah menyalin hasil pikirannya kedalam tulisan dan buku hingga berjilid-jilid yang masih kita temukan bukti eksistensinya hingga saat ini. Apa jadinya jika daya nalar kita gunakan hanya untuk berpikir ‘doang’ atau suguhan ide-ide cemerlang yang seharusnya dibaca orang lain namun, hanya terkunci dan tergembok di kepala kita saja. Tentunya hal ini sangat tidak efektif jika terus berpikir namun tidak menulis hasil pikirannya. Akan terjadi penyumbatan intelektual yang akut, karena kran nalar tidak di aliri oleh tinta-tinta penulisan.

    Finally, seniman yang ‘jago’ atau pelukis yang berbakat sekalipun, tidak akan di kenal orang jika mereka tidak melempar buah dari pikiran-pikiran mereka di atas kanvas. Hingga menjadi sebuah mahakarya yang dapat dinikmati orang lain. Di pajang dan di lelang. Di sanjung dan di junjung. Di puji dan di hargai. So, mari kita berlomba-lomba mengukir buah pikiran kita dalam naskah kehidupan. Merajut pikiran-pikiran itu dalam untaian tinta tulisan yang tidak pernah akan terlupakan oleh peradaban.


    Fadhil Sofian Hadi adalah nama pena dari Sofian Hadi. Asli berdarah Taliwang, Sumbawa Barat. Sekarang menempuh kuliah Pascasarjana (S2) di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam. Pengalaman menulis, cerpennya berjudul “Sebait Do’a untuk Sang Guru” masuk 10 besar cerpen terbaik Lomba Aksara 2016.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Aku Berpikir Maka Aku Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top