• Info Terkini

    Monday, November 19, 2018

    PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA: FADHIL SOFIAN HADI


    “Menulislah! Karena tulisan itu berbicara!” Motto ini lah yang memacu motivasi Fadhil Sofian Hadi, pemilik nama asli Sofian Hadi untuk terjun ke dunia literasi. Berawal dari kekecewaan pertama-nya dalam mengikuti beberapa sayembara dan event menulis di tahun 2016, lelaki yang lahir di Kalimantong 4 Februari 1984 Taliwang ini, tertantang membalas rasa kecewanya. Di awal interaksinya dengan dunia literasi tahun 2016 dia mulai aktif mengikuti lomba menulis naskah karya ilmiah, artikel, lomba cerpen hingga novel yang dikirim ke berbagai event, sayangnya dia tidak pernah masuk nominasi. Bahkan, panitia berbagai event tidak pernah membalas emailnya. Dapat dipastikan,kualitas tulisannya pasti jauh di dasar standard. Barangkali itu alasan pengelola event menolak membalas naskahnya. Bagi sebagian orang pasti sangat ‘nyesak’ jika naskah tulisannya di tolak tanpa ada kejelasan kabar berita.Terkadang alasan ketidakjelasan tentang naskah membuat penulis pemula ‘quit’ dalam event-event literasi. 

    Fadhil justru sebaliknya dia tidak menyerah ‘quit’ begitu saja. Dia jadikan kekecewaan dan kegagalan menjadi pelecut dan pelatuk motivasi. Dia mulai merangkak membangun komitment “istiqomah’ untuk serius terjun di dunia kepenulisan, dunia yang “asing” baginya. Dunia di mana akal diasah logika ditajamkan dan pikiran diolah dan dilatih berbicara, bukan berbicara dengan suara namun dengan kata-kata. Tidak mudah istiqamah, jika tidak ada niat. Begitu juga di dunia kepenulisan, niat adalah syarat mutlak dan syarat nomor wahid yang harus ditanamkan. 

    Seiring waktu berlalu, Fadhil semakin tertantang dan serius bergelut di dunia kepenulisan. Artikel perdananya tentang “Kriteria Pemimpin Masa Depan” berhasil meraih nominasi dalam event tingkat provinsi Nusa Tenggara Barat, serta tidak menyangka artikelnya mendapat nominasi. Pun tidak juga berpikir naskah artikelnya akan lolos seleksi, melihat peserta event tersebut terdiri dari para jurnalis dan wartawan media lokal. Tapi entahlah, mungkin panitia punya penilaian lain tentang bobot masing-masing naskah. Content naskah, judul dan isu-isu yang di usung para peserta event boleh jadi termasuk kriteria penilaian. Terlepas dari semua itu Fadhil SH, sudah dapat bersaing dengan penulis-penulis lain yang lebih berpengalaman ketimbang dirinya yang masih prematur. 

    Bentuk kekecewaan kedua, yang membuatnya alumni SLTP 1 Taliwang dan lulusan SMA Al-Ikhlas ini terjun ke dunia literasi ialah, sikap prihatin terhadap keindahan, kecantikan dan keberagaman budaya serta pesona pulau di Indonesia, khususnya pulau Sumbawa, Lombok, dan Bali yang mana informasi keindahan pulau-pulau dan tempat-tempat pariwisata di pulau ini di tulis dengan ‘apik’ oleh penulis-penulis ‘asing’, maksudnya bukan penulis dari Indonesia khususnya yang tinggal, hidup atau berdomisili di pulau tersebut. Semuanya dengan bernas dikarang dan diceritakan dengan detail oleh penulis dari Prancis, Inggris, Autralia, Amerika dan negara lain.

    Jika Anda memasuki bandara-bandara di Indonesia yang berkelas Internasional, sempatkan sejenak menengok ke PERIPLUS, di sana buku-buku yang berjejer rapi dengan cover menarik, full-color  di atas rak-rak vertical atau horizontal. Sebagai contoh, di Bandara Internasional Lombok BIL (dulu) buku dengan judul “A Brief Story of Indonesia” atau “A Brief Story of Bali” ditulis oleh ‘Tim Hannigan’asal Inggris. “Journey Through Bali & Lombok” oleh ‘Paul Greenway’ kemudian “Island of Bali” karya ‘Miguel Covarrubias’ selanjutnya “Lonely PlanetIndonesia,” karangan ‘Ryan Ver Berkmoes’ dan ratusan judul lainnya. Gambaran budaya,adat-istiadat, keindahan pulau, pesona pantai negeri ini ditulis oleh penulis ‘asing.’

    Pada dasarnya, memang tidak ada larangan dengan karya atau tulisan mereka. Hanya saja, tidak adakah penulis dari negeri sendiri yang bisa menyaingi penulis asing itu? Yang buku dan tulisannya berjejer di rak-rak PERIPLUS! Atau penulis dan penerbit Indonesia haram muncul dan menjual buku di situ. Entahlah! Mungkin kebijakan terhadap ‘karya asing’ lebih penting dan menarik dari karya anak negeri sendiri, atau ‘penulis asing’ lebih utama dan lebih istimewadi negeri ini? Bisa jadi penulis-penulis kita yang benar-benar tidak berkualitas? Hanya para elite yang bisa menjelaskan. Karena itu sudah masuk lingkaran bisnis. Kekecewaan yang kedua ini lebih menyakitkan dari yang pertama.

    Setelah pemaparan dua kekecewaan di atas, Fadhil, SH bertekat terjun di dunia menulis dengan niat dakwah dan melestarikan warisan para ulama Muslim. Baginya, ulama Muslim bukan dikenal dengan paras dan tampangnya, tapi dikenal dari wasilah buku dan tulisannya. Tradisi menulis, menurut mahasiswa Pascasarjana Universitas Darussalam (Unida) Gontor ini adalah budaya intelektual Muslim dari zaman Islam di Arab hingga terbentuknya peradaban Islam di penjuru dunia. Jika hari ini tulisan diukir di atas kertas-kertas putih atau kanvas, maka dahulu para ulama Muslim menulis di atas pelepah daun, tulang, batu, kayu dan di dinding-dinding gua. 

    Bahkan mereka menulis berjilid-jilid buku dengan disiplin ilmu yang beragam. Ilmu Filsafat, Sains, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Astronomi, Teknologi, Berhitung, Optik, Kedokteran, Perdagangan, Ilmu Bumi, Geograpi, Ilmu kimia, Fisika, Bilogi dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Kesemuanya itu telah di wariskan oleh para ulama Muslim lewat karya tulis mereka. Buku-buku dan buah pikiran mereka abadi sebagai amal jariyah yang telah mereka niatkan untuk dakwah dan ibadah.Ternyata dakwah itu tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan tulisan. Dengan khutbah dan kitabah.[نحن قوم نخطب ونكتب] “kita adalah kaum yang berdakwah dengan lisan dan tulisan”mengutip kata Dr. Syamsuddin Arif dalam bukunya.

    Hingga saat ini, Fadhil SH masih terus mengasah keterampilan menulisnya, dengan mengikuti forum menulis dan beberapa komunitas yang aktif menyuarakan literasi. Terus aktif mengirim naskah cerpen, artikel, karya ilmiah ke berbagai event atau forum menulis. Dia sadar bahwa ilmu tentang kepenulisan masih minim dan prematur. “Perlu ketekunan dan istiqomah untuk terus berkarya di dunia litarasi” pungkas lelaki yang menamatkan gelar Sarjana (S1) di Universitas Cordova Indonesia Taliwang ini. Dorongan sang istri Vrisca Lia Maulina juga menjadi sebab Ayah dari dua anak ini untuk eksis berkreasi. 

    Sebab ketiga alasan itulah yang membuat Fadhil SH ini terpacu dan fokus di dunia tulis menulis. Karya tulisanya sudah beberapa diterbitkan oleh beberapa penerbit mayor maupun indie, seperti FAM Indonesia, Angkasa Bandung, Jejak Publisher, CV Kekata Group dan penerbit lain. Jenis karya Fiksi maupun Non-Fiksi tetap digelutinya. Melihat minat baca kedua jenis karya Fiksi dan Non-Fiksi sama-sama berjubel. “Niatkan dakwah Insyaallah berkah”tutur Ayah dari Amirah Kayyisah Lillah 6 tahun dan Muhammmad Imam Bilal Al-Hadiyang berusia 2,5 tahun. Wallahu’alam bisshowab. [FAM]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA: FADHIL SOFIAN HADI Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top