Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; FERRIL IRHAM MUZAKI



Ferril Irham Muzaki dilahirkan di Kota Malang, 28 Oktober 1989, dan menghabiskan sebagian dari waktu kecil di Kabupaten Mojokerto, lebih tepatnya di Desa Pohkecik. Selain itu, dia kadang-kadang bermain ke wilayah Desa Grogol, untuk menjenguk kerabat. Hobinya adalah mendaki Gunung Welirang wilayah Kabupaten Mojokerto dan Gunung Penanggungan di Kabupaten Pasuruan.

Di Kabupaten  Mojokerto itulah, sebagian latar tempat yang dikunjungi kelak menjadi insipirasi latar tempat dari penulisan serial Sahabat Hati yang diterbitkan oleh Majalah Horison rubrik Kaki-Langit periode 2007-2008 dengan tiga buah cerita pendek bergaya Metorpolis Populer (Metropop) yakni Cinta dan Prasasti, Sahabat Hati dan Berjalan di atas Kenangan. Cerita pendek Cinta dan Prasasti lebih banyak mengambil latar di wilayah Kecamatan Gondang, sedangkan cerita pendek Sahabat Hati lebih banyak mengambil latar di jalan utama kecamatan Mojosari. Cerita pendek Berjalan di atas Kenangan lebih banyak mengambil latar di Kecamatan Pacet.

Pada fase periode berikutnya, dia aktif ikut berbagai macam perguruan Silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang dalam filosofinya mengajarkan bahwa tujuan hidup bukanlah untuk menguasai orang lain, yang lebih banyak meski harus mampu mengalahkan diri sendiri. Filosofi ini banyak diajarkan di Keluarga Silat Nasional Perisai Diri, kelak kalimat-kalimat filosofis dari para pelatih Silat di Kelatnas Perisai Diri inilah yang memberi warna serial Sahabat Hati di Majalah Horison Rubrik Kaki Langit. 

Menempuh program S1 di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang tahun 2008 dan S1 di FKIP Universitas Terbuka tahun 2010, S2 di Pascasarjana Universitas Negeri Malang  dan Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris yang diperoleh sebagai bagian dari pegawai Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Selama menempuh berbagai macam pendidikan itulah, banyak membuka cakrawala penulisan bahwa banyak hal yang bisa dieksplorasi dalam cerita Metropolis Populer, seperti Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menjadi program kerja Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kemajuan murid di Indonesia.Selama berkuliah, tulisan-tulisan ilmiah populer di beberapa rubrik ilmiah baik dalam bentuk Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia merupakan hasil perenungan ketika berkunjung ke sanak saudara di Desa Grogol, Kabupaten Mojokerto.

Perenungan Desa Grogol merupakan tempat pengolahan Bata, yang mengajarkan bahwa segala sesuatunya ada proses dan mengambil banyak pelajaran dari etos kerja dalam proses pembuatan Batu Bata di Desa Grogol, yang diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sebagai STEM Education (Science, Technology Engineering and Mathematics), tidak lupa penulis berterimakasih pada warga Desa Grogol yang telah membantu transformasi ide dan gagasan dalam kepenulisan ilmiah populer baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Inggris. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…