Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; WIRA SUKMA


Saya Wira Sukma, S. Pd.I, lahir di sebuah Desa bernama Ladang Lawas, 06 Agustus 1982, bersekolah di SDN Ladang Laweh tamatan 1993. Melanjutkan pendidikan ke MTsN Kubang Putih tamat 1996 dan selanjutnya ke MAN Kubang Putih tamat tahun 1999.  Meneruskan penimba ilmu pengetahuan di STAIN Syech M Djamil Djambek Bukittinggi tamat tahun 2003. Semuanya saya lalui di Bukittinggi.
  
Setelah menjadi pengangguran selama 3 bulan, akhirnya pada tanggal 10 Januari 2004 saya berangkat ke Bangun Jaya, kecamatan Tambusai Utara kabupaten Rokan Hulu, Riau, mengabdi di SMPN 1 Tambusai Utara selama 6 bulan mengajar bidang study Arab Melayu dan bertugas di perpustakaan sekolah. 6 bulan setelahnya saya di pindah ke SMAN 1 Tambusai Utara bersama SK GTT(Guru tidak tetap). Pada tahun 2005 masuk data best, yang akan diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil secara bertahap, hingga pada tahun 2008 resmilah jadi CPNS yg diresmikan PNSnya tahun 2010.

Kebiasaan menulis sebenarnya sudah ada sejak zaman sekolahan dulu, namun tidak terlalu dihayati. Pernah menulis cerita dan dikirim ke Radio di Bukittinggi dalam acara bisikan malam khusus untuk remaja. Setelah sekian lama tidak digeluti, akhirnya terlintas di hati, andaikan saya punya buku sendiri yang di halaman depannya ada nama saya, tentu bahagialah  rasanya. Lalu saya termotivasi oleh seorang adik kelas yang telah menerbitkan buku pertamanya. Lalu Saya cari cara agar tulisan saya juga di bukukan, walaupun melalui indie published. Akhirnya pada tahun 2017 saya berhasil menerbitkan buku pertama saya berjudul “Nisan Cinta”,  kemudian pada tahun 2018 lahirlah adiknya Nisan Cinta berjudul “Potret Buram”. Kedua buku ini adalah kumpulan puisi-puisi saya.

Lalu saya mengikuti lomba yg di taja oleh  FAM yaitu lomba kata mutiara bertema Waktu masuk 20 besar, dan lomba cipta puisi tema IBU, masuk 200 besar dan di bukukan dengan judul buku “Perempuan yang tak layu menanti tunas baru”. Selanjutnya ada kegiatan yang di taja oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur, 1000 Guru Asean Menulis Puisi. Dan sekarang yang akhirnya penggarapan adalah antologi puisi tema Waktu yang di adakan oleh FAM. Saya juga pernah mengikuti kegiatan lomba baca puisi Guru se- Riau dalam acara Bulan Bahasa UIR 2018 di Pekanbaru.

Itulah sekelumit perjalanan saya dalam dunia kepenulisan. Semoga kedepannya tulisan-tulisan saya lebih baik lagi.dan di minati masyarakat. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…