Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; ELI WAHYUNI


ELI WAHYUNI, wanita kelahiran Pasuruan, 08 Juni 1985 ini sekarang berdomisili di Malang-Jawa Timur. Saat ini ia telah mengantongi empat puluh piagam penghargaan. Beberapa prestasi di bidang kepenulisan telah diraihnya. Aktif berkontribusi dalam event kepenulisan tingkat nasional sejak tahun 2010-2013.

Meski sempat vakum di bidang kepenulisan, namun di tahun 2016-2018 beberapa puisi karyanya telah dimuat dalam terbitan majalah Cerdas, yang merupakan salah satu majalah pendidikan di kabupaten Malang.

Tahun 2017-2018 Karya puisi, dongeng dan cerpennya juga menjadi salah satu nominator lomba yang diselenggarakan oleh FAM Indonesia. Salah satu penulis dari antologi buku puisi “Tanah Bandungan”, cerpen remaja “Ganjaran Bagi Si Pemilik Nama Yang Membusuk”, dan dongeng “Janji Seekor Tikus Dan Semut.” Penulis tunggal buku”Sang Pengabdi” terbitan J-Maestro dan novel “Tegar” terbitan Jsi Press.
Wanita yang aktif dengan tugas kesehariannya sebagai seorang guru ini, sangat pintar dalam memanfaatkan waktu luangnya. Ia biasa menulis di sela-sela jam istirahat dan jam kosong. Baginya waktu akan terbuang sia-sia jika belum ia goreskan sebuah kata.

Tentu saja semua yang telah diraihnya kini tak lepas dari perjuangan, pengorbanan, kerja keras, dan doanya yang selalu ia lantunkan pada Sang penentu segalanya. Baginya tak ada sesuatu yang sia-sia. Selama mau berusaha dan berdoa maka suatu saat akan menikmati hasilnya, dan itu telah ia rasakan.

Dunia literasi baginya adalah tempatnya untuk berekspresi dan menuangkan segala imajinasi. Tak ada hal lain yang diinginkan selain menyebarkan kebaikan untuk sesama. Menulis memang mudah tapi untuk menjadi seorang penulis itu tidak mudah. Butuh pertimbangan seribu kali bagi seorang penulis untuk menggoreskan penanya menjadi tulisan yang akhirnya dibaca banyak orang. Ada tanggung jawab sendiri yang tak bisa diabaikan begitu saja. Tak hanya seputar bagusnya kisah, tapi pesan moral yang tersampaikan menjadi hal yang harus diemban oleh penulis.

Hingga kini, penulis tetap aktif berkarya lewat event kepenulisan nasional. Penulis dapat dikunjungi di fb: Eli wahyuni, tweeter: @EliWahyuni_85, IG: elipunya_85, email:eli.punya@gmail.com, cp:085239132266. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…