Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; PIPIN PIRMANSYAH


Pipin Pirmansyah dilahirkan di Ciamis, 31 Januari 1969. Menempuh pendidikan di SDN Buniseuri 1 Cipaku Ciamis, melanjutkan di SMPN Buniseuri Cipaku Ciamis, kemudian di PGAN Ciamis dan terakhir di IKIP Siliwangi Bandung. Sekarang ia sebagai tenaga pendidik di SMK Bandung Barat 2 Cihampelas di bawah Yayasan Universitas Bandung Barat.

Sejak menginjak bangku sekolah di SMP, ia sering menulis puisi dan membuat syair lagu namun tidak dipublikasikan. Ia mulai konsentrasi dan fokus di bidang sastra sejak menempuh pendidikan di IKIP Siliwangi Bandung jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, berbagai lomba menulis sering diikutinya dan mulai aktif di dunia literasi begabung bersama FAM Indonesia, lomba yang diikuti lomba kata mutiara bertema “Waktu” FAM mendapat juara ke-3, sebagai 20 terpilih pada lomba kata mutiara tema “Membaca” FAM, Juara 1 lomba cipta puisi bertema “Harapan” Pujangga Tasikmalaya.

Karya antologi puisinya banyak yang telah dibukukan antara lain antologi puisi “Percakapan” Penerbit ASUPI, antologi cerpen “Dua Cermin Cinta Sepotong Episode” Penerbit Interlude, antologi puisi “Elegi Tentang Buda” Penerbit Perahu Literasi, “Pesan Cinta untuk Sahabat” Penerbit FAM Publising, “Tanah Bandungan” Penerbit FAM Publishing, “Kampung Halaman” Penerbit FAM Publishing dan masih banyak karya yang lainnya.

Begitu banyak karya yang dihasilkannya, selain menulis ia juga sebagai pencipta lagu . Tahun 2006 menciptakan lagu “Mars RSU Cibabat”. Tahun 2012 menciptakan lagu sunda “ Sulaya Jangji” dan lagu “Geter Cinta”. Tahun 2014 lagu sunda “ Alim Ah”, pada bulan Oktober 2018 menciptakan lagu “Mars PDRI” Persatuan Dosen Republik Indonesia dan masih banyak ciptaan lagu yang lainnya. Ia pun aktif di MGMP Bahasa Indonesia dan di MGMP Seni Budaya sebagai ketua wilayah IV Kabupaten Bandung Barat.

Baginya menulis dan membuat lagu tidak bisa dipisahkan, berkarya adalah suatu proses yang harus dilakukan agar jadi sebuah bukti nyata dan akan menjadi segudang ilmu yang bermakna. Tanpa menulis tak akan membuahkan karya. Itulah seputar liku-liku perjalanan penulis. Semoga karya-karyanya dapat diterima di masyarakat baik lagu-lagu ciptaannya atau pun karya sastranya.

Penulis bisa dikunjungi teman-teman di fb: pipin.pirmansyah, IG: @pipin pirmansyah. Smule: Pipinpirmansyah, Youtube : Pirman Chanel. https://youtu.be/jzehsGaz6og
Email: pipinpirmansyah69@gmail.com. Tlp : 085223001661. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…