Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; RIN MUNA


Hai salam kenal, nama saya Walrina Munangsir, biasa dipanggil Rin Muna yang kemudian juga menjadi nama pena saya. Lahir di Samboja, 09 November 1991. Pernah bersekolah di SDN 038 Samboja, SMP N 15 Balikpapan, SMA Negeri 6 Balikpapan.

Usai lulus SMA langsung bekerja di salah satu perusahaan swasta selama 7 tahun dengan jabatan terakhir sebagai Akuntan. Akhir tahun 2017 saya mengundurkan diri dari perusahaan dan memilih mengabdi kepada masyarakat dengan mendirikan sebuah taman baca yang diberi nama Taman Bacaan Bunga Kertas. Hadirnya taman bacaan ini juga tak lepas dari saran dan support teman-teman penulis di FAM Indonesia.

Pada bulan Agustus 2018 berhasil meraih Juara Favorite Duta Baca Kaltim 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Timur. Saya juga mengikuti beberapa Pelatihan Instruktur Literasi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Kalimantan Timur.

Saya hobi menulis sejak kecil dengan mengikuti beberapa event kepenulisan. Pertama kali naskah puisi dibukukan oleh FAM Indonesia dan terbit pada tahun 2016. Ada 15 buah buku antologi yang diterbitkan FAM Publishing sejak tahun 2016 hingga tahun 2018. Cerita terakhir yang diterbitkan oleh FAM Indonesia ialah event menulis dongeng dengan judul cerita “Asal-Usul Jamur Merang” dalam buku “Janji Seekor Tikus dan Semut”.

Saat ini saya aktif menjadi kontributordi platform media online yakni kompasiana.com dan plukme.com. Hasil dari menulis di Plukme! sudah menghasilkan 2 buah buku antologi Bersama berjudul “Asmara di Negeri Somplak” dan “Salikah”.

Saya tergabung dalam beberapa komunitas seni dan sastra yakni FokuS (Forum Kreatif Usaha Sama-Sama), FAM Indonesia, Forum Taman Baca, Plukme Friends, Me!Radio dan Duta Baca Kaltim.

Buat kamu yang ingin lebih dekat denganku bisa hubungi salah satu akun sosial media ini ya! Facebook : Rin Muna, Twitter : walrina_ams, Instagram : @rin.muna, Plukme! : Rin. Muna, Linkedin : Walrina Munangsir, Blog : rinmuna.blogspot.com, Whatsapp : 085349625400, Kompasiana : Rin Muna, gwp.co.id : walrina

Kata Mutiara :
“Tak Perlu menjadi langit hanya untuk dibilang tinggi. Cukup menjadi sehelai daun yang memberikan kehidupan” – Rin Muna [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…