Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; DESMA HARIYANTI


Desma Hariyanti, lahir di Pugung Raharjo, 11 Desember 1985. Anak ke dua dari bapak Muslim Tandjung dan ibu Misrawati Chaniago. Beberapa tulisannya dipublikasikan di: https://tulisankreatif.blogspot.com. Alumni S1 FKIP Bahasa dan Seni, Program Studi bahasa Inggris, Universitas Lampung. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2008, saat tergabung di Forum Lingkar Pena Lampung. Selama di kampus, penulis lebih fokus pada organisasi di Bidang Seni, Rohis, dan Pramuka. Dan ketiga bidang ini masih tetap ditekuni hingga sekarang.

Beberapa karyanya dipublikasikan dalam antologi puisi: Ode Buat Saudaraku ( Kumpulan Puisi untuk Palestina), Ketika Aku Berjalan (Antologi Puisi), Reuni Kata (Antologi Puisi), Refrain Menjelang Tidur (Antologi Puisi) dan Tanah Bandungan (Antologi Puisi).  Tulisan yang lain adalah, Pemantik Gelombang (Antologi Cerpen), Tips Menulis Cerpen (Kumpulan Cerpen dan Puisi Siswa),Ceritaku – Ceritamu ( Kisah Inspiratif Guru di SDIT Permata Bunda), English Course 1 ( Buku Bahasa Inggris untuk SMP Kelas 7)dan English Course 2 ( Buku Bahasa Inggris untuk SMP Kelas 8), 17 Kisah Perjalanan dari Lampung hingga Canberra (Kumpulan Kisah Perjalanan), Tragedi Nasi Padang (Antologi Cerpen). Kisah Inspiratifnya yang pernah dimuat di majalah Tarbawi berjudul: Keajaiban dari Tuhan. Tulisannya tentang review puisi juga pernah dimuat di harian Radar Lampung.

Saat ini penulis mengajar Bahasa Inggris dan Ekskul Kepenulisan di SMPIT Permata Bunda, Islamic Boarding School, JL. Cemara Raya. Komplek Cemara Indah. Labuhan Ratu Raya, Bandarlampung. 35142. Selain menjadi pengajar, penulis juga tergabung dalam komunitas Tapis Blogger Lampung. Penulis yang memiliki hobi melukis ini terkadang mendongeng bersama komunitas sosial di beberapa panti asuhan di Bandarlampung. Sekarang penulis tengah asyik mengumpulkan lembaran tulisan untuk kembali dihimpun menjadi buku kenangan. Penulis aktif mengikuti lomba menulis, serta berkegiatan PRAMUKA dalam rangka ikhlas bakti pada negeri.

Menurutnya, belajar mengajar adalah cahaya. Menulis adalah cinta dari Sang Maha untuk menemukan dan menebar makna dari kata yang dijumpa. Melukis adalah ruang sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh hati dan tinta. Semua terpadu meleraikan lara, kemudian menghimpun kebaikan, untuk akhir masa. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…