• Info Terkini

    Monday, December 24, 2018

    PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA: SALWA KHAIRANI MAYRA


    Aku Menulis, Karena Menulis Membebaskanku

    Di jalan-jalan yang terbentang di bumi ini, berjalanlah di atasnya orang-orang yang memanggil dirinya ekstrover dan introver. Di mana jumlah ekstrover setara dengan dua pertiga pnduduk bumi, sedangkan introver sepertiganya. Dan aku berada pada lingkaran terkecil. Introver.

    Pada posisi inilah aku terjun kedunia menulis. Sebagai introver, banyak hal yang harus aku prjuangkan. Karena seorang introver berbeda dari yang lain. Pribadi ini sangat sulit melibatkan diri dalam sebuah obrolan atau untuk mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan dan juga rasakan. Tapi, itu semua akan mengalir ketika ia diberi celah. Bagiku, celah terbaik itu adalah lewat mnulis.

    Aku menulis bukan mengugkapkan apa yang semua orang bisa ungkapkan. Aku menulis untuk mengungkapkan apa yang terlalu sulit untuk diungkapkan oleh lisan.

    Biasanya orang-orang yang sulit untuk mengutarakan apa yang ia rasakan dan pikirkan pada ujungnya ia hanya memendam segalanya yang akan membuat sesak di dada. Untuk itulah aku menulis, untuk menghindari memendam rasa yang menyakitkan. Karena itulah menulis dapat membebaskanku. Membebaskanku dari segala rasa yang menyakitkan.

    Lewat menulis aku lebih leluasa untuk mengutarakan maksudku tanpa takut terhadap respon orang lain yang ak terduga secara langsung. Lewat menulis aku dapat dengan perlahan untuk menuliskan segala yang ada dipikiranku, mencari dan, memastikan kata-kata yang pas. Karena aku bisa berpikir lebih lama seebelum menyampaikan maksud dan isi pikiranku.

    Aku mulai merasakan menulis itu dapat membebaskanku ketika aku di tahun terakhir bangku putih dongker. Saat itu aku sedang mengalami banyak masalah. Masalah itu hanya aku pendam karena takut orang lain akan mengetahui masalah tersebut. Aku memendam karena aku tidak tahu akan bercerita kepada siapa, karna saat itu tak ada seorangpun yang aku percaya. Lama-kelamaan memendam itu membuat sesak di dadaku.  

    Hingga di suatu hari ketika Allah menakdirkan seseorang datang sebagai penyelamatku. Entah kenapa saat aku ditanya olehnya, aku malah menjawab semua pertanyaannya. Padahal kami baru dekat saat itu dan aku merasa telah percaya saja kepadanya.

    Di pertemuan berikutnya dia bertanya padaku, “Kamu suka menulis?”. Aku menjawab dengan anggukan. Lalu dia lanjutkan berbicara, “Coba kamu menulis. Tuliskan semua yang kamu rasa, tuangkan segalanya diatas lembaran itu. Anggap saja kertas itu orang. Jadi kamu tak terlalu susah untuk mencari orang tempat kamu bercerita dan kamu juga tidak ketergantungan terhadapnya. Tapi, kamu harus hati-hati dalam menyimpannya.”

    Setelah mendengar nasihat darinya aku mulai menata hati. Aku pasang niat untuk terus menulis segala yang ku rasa. Setiap malam aku biasakan untuk menceritakan kejadian pada hari itu. Awalnya memang sulit untuk memulainya, apalagi untuk membiasakan menulis setiap malam. Tapi lama-kelamaan akan menjadi terbiasa, jika aku berusaha menjadikannya sebuah rutinitas.

    Pada awal semester pertama di bangku putih abu-abu, seseorang mengajakku untuk mengikuti sebuah event penerbitan antologi puisi. Pada awalnya aku ragu untuk mengikutinya. Takut nantinya puisiku tidak terpilih. Tapi, dia menyemangatiku dan terus membujukku untuk ikut. Dan Alhamdulillah puisiku terpilih dalam event itu. sejak saat itu aku mulai aktif mengikuti event-event menulis lainnya. Sekarang ada sekitar 4 antologi yang memuat puisi dan cerpenku.

    Tahun lalu aku mencoba mengikuti ajang pelombaan cerita remaja islam (ceris) tingkat nasional. Perlombaan itu menuntut setiap peserta untuk membuat cerita dalam bentuk bab-bab yang terdiri dari 60 halaman minimalnya. Aku mendapat kabar tentang perlombaan itu seminggu sebelum hari terakhir pengumpulan. Aku pesimis jika tulisan itu bakalan selesai dalam waktu seminggu. Namun, berkat usaha dan doa, serta dorongan dari orang tua, para guru dan teman-teman cerita itu akhirnya selesai juga. Walaupun tak sebagus novel-novel best seller.

    Mungkin Allah tidak berkehendak dan nasib baik sedang tidak berpihak kepadaku. Tulisanku tidak terpilih sebagai pemenang, jangankan pemenang, final saja tidak. Aku bersyukur walaupun karyaku tak terpilih. Mungkin ini sebagai penyemangatku untuk terus menulis dan menciptakan karya-karya baru yang lebih bagus lainnya.

    Suka Menulis Sejak Kecil.

    Aku putri Batusangkar kelahiran Solok, 23 September 2001 di klinik Bersalin Ananda. Aku diberi nama Salwa Khairani Mayra, yang biasa dipanggil Ara. Banyak kepala yang bertanya tentang ini, “Dari mana Ara-nya?”.Setiap mendengar pertanyaan itu aku hanya ketawa sendiri.Kata orang tuaku pada awalnya, panggilanku adalah Salwa.Namun karena kepanjangan banyak keluargaku yang menyingkatnya menjadi ‘Wawa’.Nenekku tidak setuju dengan panggilan itu. Kata nenek panggilan itu seakan-akan nama binatang, ‘wawaw’. Awalnya nenek dan orangtuaku sudah sering menegur keluargaku untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu, tapi sepertinya teguranitu hanya angin lewat saja.

    Mama bilang, “Kenapa mereka tak memanggilnya dengan panggilan Awa, seperti kita? Masa Wawa?”.Dulu orang tuaku memanggilku dengan panggilan Awa.Sejak kejadian itu orang tuaku sepakat untuk mengganti panggilanku dengan mengubah ‘w’ dari Awa menjadi ‘r’, yaitu Ara. Hingga sekarang banyak orang yang memanggil dengan nama baruku.
    Kedua orang tuaku suka sekali membaca dan membeli buku terutama Papa-ku.Maka tak heran jika rumahku dipenuhi oleh buku-buku dan kardus-kardus yang berisi buku yang tidak tahu mau ditempatkan dimana.Dalam sebulan papaku mewajibkan masing-masing dari kami untuk membeli buku, apapun jenisnya.

    Papaku membiasakan kepada kami untuk suka membaca buku sejak kecil.Makanya orang tuaku sudah mengajari aku membaca sejak umur 4 tahun kurang.Dan ketika masuk TK saja aku sudah lancar membaca.Tak itu saja, Papa-ku juga mendorongku untuk menulis.
    Waktu di bangku merah putih aku mulai menulis cerpen dan puisi.Cerpen dan puisi itu aku berikan kepada wali kelas untuk ditempel di mading sekolah.Aku juga memiliki buku tulis isi 40 untuk karya-karyaku saat itu.
    Aku suka menulis juga termotivasi dari Papa yang sudah menerbitkan beberapa buku. Sering juga papa bercanda, “Kapan Kak bisa ngalahin Papa?”.Candaan Papa itu juga menjadi dorongan bagiku untuk terus menulis.

    Meskipun aku suka menulis, tak pernah terbersit di hatiku untuk menjadi seorang penulis sebagai profesi utamaku.Aku bercita-cita menjadi dokter yang juga penulis.Aamiin. [FAM]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA: SALWA KHAIRANI MAYRA Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top