• Info Terkini

    Thursday, December 6, 2018

    PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; ALUNA SYAGUS


    Menulis, Sarana Menjadi Bermanfaat untuk Banyak Orang

    Perpus rasa Base Camp Pribadi

    Buku, bagi saya, termasuk benda dengan nilai yang yang tidak bisa dianggap remeh. Demi itu, saya rela menyisihkan uang jajan. Tentu saya menghindari membeli buku bajakan. Selain untuk menghargai hasil karya orang lain, memiliki buku yang orisinal akan memberikan rasa puas tersendiri bagi saya. Namun, deretan kebutuhan pribadi lainnya yang lebih prioritas seringkali membuat saya harus menunda keinginan untuk membeli buku baru. Pada akhirnya, buku-buku di perpustakaan menjadi pelampiasan balas dendam termudah bagi saya.

    Sejak masih bersekolah di Taman Kanak-kanak, saya telah jatuh cinta dengan perpustakaan. Sama--panggilan saya untuk Ibu--yang bekerja sebagai PNS di kantor DEPPEN saat itu, suka sekali mengajak saya berkunjung ke bagian perpustakaan kantornya sepulang saya sekolah. Barangkali maksudnya agar saya tidak bosan. Sekolah TK saya hanya berlangsung setengah hari. Setelahnya saya harus menghabiskan waktu di kantor Ama, hingga jam pulang pegawai sore hari. Di rumah tidak ada siapa-siapa hingga sore. Adik-adik biasanya diantar main ke rumah nenek dan baru akan dijemput setelah Apa – panggilan saya untuk Ayah – sepulang dari kantor. Tentu menunggu sore akan menjenuhkan bagi saya yang masih kanak-kanak saat itu. Karena dahulu tidak ada gadget, tablet, dan sejenisnya. Dengan buku, minimal saya tersibukkan. Dan ternyata memang benar, saya menjadi lupa waktu saat sedang membaca buku. Hingga pernah sekali, Ama kehilangan saya seharian, dan saya kepergok sedang menyudut bersama beberapa buku, nyaris tersuruk di balik rak-rak perpustakaan.

    Saat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar, saya baru dapat merasakan sensasi perpustakaan sekolah sewaktu kelas 5 SD. Hal ini dikarenakan baru terpenuhinya semua sarana dan prasana yang dibutuhkan. Berbeda sekali saat saya telah duduk di bangku SMP. Perpustakaan di sana serasa base camp pribadi bagi saya. Ruangannya lebih luas, banyak meja dan kursi, suasanya tenang dan nyaman, dan banyak sekali buku yang belum pernah saya baca di sana. Hanya saja, waktu yang begitu terbatas di sana, membuat saya sedikit kecewa. Berkunjung hanya dibolehkan saat jam istirahat saja. Terkadang saya curi-curi kesempatan saat jam kosong agar bisa menghabiskan waktu di sana.

    Pernah suatu hari, saat akhir semester 2, kelas 7 SMP – di momen pembagian rapor, setelah semua peringkat tiga besar kelas diumumkan, tiba-tiba nama saya terpanggil untuk naik ke atas panggung. Saya sempat mematung, bleng, karena kaget. Namun setelah semua kembali ke dalam memori otak saya, menelaah apa yang diumumkan, saya jadi terharu dan bahagia  Karena saya pada hari itu dinobatkan sebagai “Pengunjung Perpustakaan Terbaik” di SMP tahun itu. Mungkin beberapa orang akan meremehkannya, karena ini bukan juara kelas. Tapi bagi saya ini tetaplah prestasi penting.

    Hingga saat ini, saya masih memiliki rasa yang entah apa saat tiba-tiba melangkah di depan pintu ruangan atau gedung yang bertuliskan “Perpustakaan”. Seperti ada sebagian diri saya yang tertinggal dan memanggil-manggil untuk terus masuk ke dalamnya. Saya pikir membaca akan menjadi hobi seumur hidup saya.


    Terjebak

    Saya lahir di Pagaruyung – sebuah desa dekat kaki gunung Marapi, Sumatera Barat – tanggal 20 September 1991. Putri pertama dari pasangan bapak Syamsurijal dan ibu Gusnieti. Saya empat bersaudara, perempuan semuanya. Saya senang dipanggil ‘Lun’. Itu panggilan beken di kelas 9 SMP yang masih hidup hingga kini. Saat di rumah, adik-adik juga lebih senang memanggil saya’Kak Lun’, walau keluarga besar masih tetap menghidupkan nama asli saya, Lhona.

    Saya dan adik-adik cepat bisa baca tulis karena sedari kecil sudah diajari oleh orang tua. Seusia TK kami bahkan telah bisa membaca Alquran dan buku dengan baik. Di rumah bahkan Ama membelikan kami majalah untuk dibaca. Sesekali juga meminjamkan buku cerita bagus dari perpustakaan.

    Walaupun senang membaca, tidak berarti saya senang menulis. Terutama jika disuruh mengarang, saya seperti tidak mampu mengenali gaya tulisan saya lagi. Selalu berubah-ubah terpengaruh gaya tulisan orang lain yang terakhir kali saya baca. Saat membuat puisi terutama, seringkali membuat saya pusing dan mual. Sangat sulit bagi saya merangkai kata-kata menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Segala serasa hambar dan sepele. Hingga akhirnya saya putuskan, menulis bukanlah bidang saya.

    Setelah menamatkan SMA, saya melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Keperawatan di Universitas Andalas. Kelar S1 saya lanjut mengambil Profesi Ners di kampus yang sama. Februari 2015, awal saya memulai studi Profesi Ners, menjadi titik balik saya dalam dunia literasi.

    Selama menghabiskan hari-hari di Rumah Sakit, Puskesmas, dan Komunitas, saya diberkahi dengan banyak momen dan kisah yang menurut saya kaya akan hikmah. Baik tentang pasien-pasien, keluarga pasiennya, petugas medisnya, rekan sesama mahasiswa, dosen, bahkan keluarga sendiri pun memberi banyak warna pada hidup saya saya saat itu. Semua rasa ada. Terharu, nyesek, kesal, pasrah, sedih, syok, bahagia, marah, galau dan kecamuk lainnya di dada, menjadikan saya tergerak untuk berbagi cerita kepada yang lain. Bukan soal ingin curhat atau apanya, hanya soal hikmah yang rasanya perlu dibagi. Menurut saya, kita bisa banyak belajar dari kepingan hidup orang lain.

    Setiap minggu saya bahkan menyempatkan diri untuk menulis di media sosial seperti di status facebook atau di blog. Pernah suatu hari saya menerima pasien di IGD, seorang nenek, ditemani seorang lelaki paruh baya yang menurut saya merupakan anaknya. Ruas pertama tulang pada jari telunjuk tangan kanannya bengkok tanpa bisa diluruskan. Saya melihat itu saat sedang memeriksa tekanan darah beliau. Agak lama saya tertegun melihatnya. Menyadari itu, sang bapak yang berdiri di sebelah bed nenek itu berkata, “Tangan enek bengkok dek manggadangkan Apak, Nak. Bakureh mangubak karambia mancari pitih”- “Tangan nenek bengkok karena membesarkan Bapak, Nak. Bekerja keras mengupas kelapa”. Spontan beliau memegang lembut kepala nenek itu. Mengusapnya pelan-pelan.. Saya terhenyak. Ada gelombang panas yang menyerang kepala saya dari arah kaki. Itu menyebabkan mata saya memanas dan beruap tiba-tiba. Ada pedih di hidung yang membuat saya entah kenapa tiba-tiba ingin menagis. Saya tarik nafas dalam-dalam. Saya palingkan pandangan ke arah tensimeter yang sedang bekerja. Saya kerjap-kerjapkan mata agar cairan bening itu tidak jatuh, masuk lagi ke dalam rongga mata. Ada perasaan ingin ketemu Ama saat itu, sudah lama sekali tidak libur. Di lain sisi, dinas dan semua tugas-tugas menjadi penghalang besar untuk berfikir pulang kampung sesaat. Kisah ini saya tulis di media sosial, sekedar untuk menggelitik diri sendiri dan diri yang lainnya. Ada cinta di sini, bapak dan nenek tadi, walau tak pernah berkata dan dalam kesusahan hidup yang entah bagaimana, saya tahu seberapa sayangnya bapak itu dengan ibunya. Begitu pun sebaliknya.

    Saya menulis cerita lainnya juga, di medsos. Ada banyak cerita lain yang saya posting. Tidak peduli dengan like atau comment dari apa yang saya posting. Jangankan untuk merespon, untuk membuka medsos itu secara rutin pun saya belum tentu ada waktu. Suatu hari saya iseng sekedar mencek profil di medsos. Ternyata ada banyak respon tentang cerita-cerita yang telah saya posting. Ini luar biasa, bagi saya. Saya jadi ingin terus membagikan pengalaman-pengalaman berharga yang saya lalui jika itu berhikmah. Terus dan terus. Dan tanpa saya sadari, saya telah terjebak. Terjebak, secara tidak sadar mulai suka menulis, tentu gaya tulisan yang ala saya sendiri. Sepertinya, inilah nasehat lama itu, janganlah terlalu membenci sesuatu, bisa jadi suatu hari kamu akan menyukainya.


    Nama Kedua

    Setelah menamatkan studi profesi, saya mencoba mengabdi di sebuah klinik di sebuah boarding school. Niat awal bekerja ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang dengan ilmu yang dimiliki. Ada kebahagiaan tersendiri melihat orang lain bahagia. Menyaksikan pasien bisa sembuh dari penyakitnya merupakan kebahagiaan entah berasa apa bagi orang-orang yang berprofesi seperti saya. Motivasi saya adalah perkataan baginda Rasulullah SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni). Ustadz Agus Setiawan juga pernah berkata, “Jika kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah. Dan jika kamu ingin dikenal dunia, maka menulislah”.

    Suatu hari saat sedang berselancar di medsos, saya menemukan sebuah video bagus yang berisikan sebuah nasehat dari Buya Hamka. Tentang nama kedua seorang manusia. Nama yang membuat seseorang tetap disebut setelah dia meninggal. Nama kedua ini hidup berdasar pada perilaku manusia itu selama hidup. Layaknya Rasulullah yang walau hidup enam puluh tiga tahun saja, namun namanya tetap ada, hidup hingga seribu empat ratus tahun hingga kini. Hal ini makin memotivasi saya berbagi, lewat tulisan terutama. Kita tidak tahu manfaat apa yang bisa dipetik orang lain dari tulisan-tulisan kita. Bahkan bisa jadi seseorang menghijrahkan diri ke arah yang lebih baik disebabkan diri kita, tanpa kita sadari.

    Sejauh ini saya belum mencoba mengirim tulisan ke media cetak. Selain disebabkan karena masih baru mengenal dunia literasi, tulisan-tulisan saya juga terasa belum terlalu berbobot. Dua tahun belakangan, saya mencoba mengikuti event-event kepenulisan disela-sela istirahat dinas. Alhamdulillah, sejauh ini saya telah memiliki lebih dari 11 buku antalogi yang memuat beberapa tulisan saya berupa prosa, cerpen, puisi, atau profil kepenulisan pribadi. Semoga suatu hari bisa memiliki buku sendiri dengan niat semangat bermanfaat untuk banyak orang. Doakan. [FAM]


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; ALUNA SYAGUS Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top