Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; WIRDANENGSIH


Aku di lahirkan di daerah Sumatera Barat, tepatnya di bawah gunung merapi  tahun 1971. Sewaktu kecil aku menyenangi  permainan belajar mengajar  seperti  berperan jadi guru dan teman-temanku menjadi  murid-murid. Aku suka membaca buku cerita anak-anak.

Semasa kuliah  di Universitas Andalas  aku aktif di organisasi kemahasiswaan, pernah menjadi ketua lembaga Perwakilan mahasiswa FISIP Univeristas  Andalas. Aktif juga di bidang kepenulisan kampus, aku pernah menjadi redaktur pelaksanaan buletin  Swa Sastra di fakultas Ilmu sosial dan Sastra Universitas Andalas Padang. Selain itu,  suka menulis artikel di  harian Sumatera  Barat. Artikel  bertemakan anak-anak dan fenomena sosial lainnya.

Setelah menamatkan studi S1, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia program Studi  Antropologi, dan bekerja tidak tetap sebagai konsultasi sosial pada proyek pemberdayaan perempuan ekonomi lokal di Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Kuliah, bekerja namun Aku tetap suka menulis, menulis di berbagai  media  cetak. Karya-karya hasil tulisan pada harian korannya akhirnya di bukukan dengan judul,  “Peradaban Masyarakat Indonesia.”

Tahun 2002, aku menamatkan studi S2 Antropologi dan terus bekerja  sebagai dosen pendidikan Anak Usia Dini di Sekolah Tinggi Agama Islam Nida El Adabi  Bogor.  Aku aktif dalam kegiatan  pendidikan Anak Usia Dini  dalam pebinaan direktorat  PAUD Depdiknas dan yayasan Qalbun salim  Istiqlal. Ikut pelatihan pendidikan anak dan seminar pendidikan anak yang akhirnya  aku dan suami  bertekad mendirikan lembaga pendidikan anak  mulai dari taman bacaan “Si Puti” dan institusi pendidikan “Griya Istiqlal” tahun 2004 di daerah Parung Panjang Bogor, daerah perbatasan antara propinsi Banten dan bogor propinsi Jawa barat yang merupakan daerah yang masih terbelakang dan hidup dalam lingkaran kemiskinan.

Lembaga tersebut dapat dikatakan sebagai lembaga  penampung anak-anak yang ingin belajar  dengan latar belakang keluarga berpendapatan rendah,  kami menerapkan sistem bea siswa gratis bagi anak yang tidak mampu. Selain itu  aku tetap masih senang menulis artikel pendidikan anak di buletin keluarga Badan pembinaan  Keluarga, Ibu dan Anak. Alhamdulillah sampai hari ini, lembaga Griya Istiqlal  tetap berjalan dengan baik dan semangat menulis tentang pendidikan anak tetap konsisten. Sekitar tahun 2002-2004 aktif di badan pembinaan Taman kanak-kanak Islam propinsi Banten. Di bawah ini adalah gambar lembaga PAUD Griya Istiqlal.

Tahun 2007, aku diterima menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Universitas Negeri Padang dan aku pindah ke kota Padang. Sekolah pendidikan anak Griya Istiqlal tetap berjalan dengan pembinaan jarak jauh. Alhamdulilah  lembaga itu tetap bertahan dengan kesederhanaannya yang berada di lingkungan masyarakat yang berpendapatan rendah.

Di Universitas Negeri Padang, salah satu mata kuliah yang diampu adalah Antropologi Pendidikan. Selain mengajar di Universitas Negeri Padang, aku mengajar di STIKIP ADZKIA, mata kuliah yang diampu Pendidikan Anak dalam Keluarga dan mata kuliah Kecerdasan Anak.

Selain kegiatan mengajar Di Universitas,  aku aktif di yayasan amanah dan bersama-sama mendirikan rumah pintar  Rasyidah yang sempat menjadi pemenang 3 Rumah pintar tingkat Nasional tahun 2010 dan aktif dalam program parenting ke daerah pelosok sumatera Barat seperti Dhamas Raya, Pasaman Barat dan solok Selatan. Aku juga aktif di forum Pendidikan anak Usia Dini  Sumatera  Barat, lembaga yang menaungi berbagai kebijakan PAUD di Sumatera barat.

Tahun 2018, Penulis menyelesaikan studi program doktor pendidikan di Univeritas Pendidikan Indonesia  Bandung dengan fokus kajian pendidikan karakter anak melalui tradisi Khatam Quran di Sumatera Barat. Beberapa bagian dari disertasi tersebut ditulis dalam bentuk artikel yang dimuat pada jurnal ilmiah. Seperti jurnal Insan cita Jurnal akademika,  jurnal  Ta-dib dan jurnal sosial Nusantara, jurnal Socius, jurnal Harkat dan beberapa Proseding Internasional.

Semua karya-karya  itu adalah dalam bentuk karya ilmiah, namun ada sisi lain yang perlu diungkapkan  dengan nuansa “perasaan” dan  seni yaitu  bentuk novel yang berangkat dari kisah nyata seorang bunda-anak menuju sebuah cita cita berkhatam Quran,   diskripsi  budaya ritual khatam Quran itu dan  kisah perjuangan penulisan sebuah disertasi  yang bertemakan khatam Quran, maka lahirlah  novel yang berjudul, “Khatam Quran for children.” [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…