Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; HASMITA MAYA


Hasmita Maya, dipanggil Maya, lahir di Medan, 02 Mei 1975. Dibesarkan oleh kedua orangtua yang berprofesi sebagai guru agama sehingga jiwa pendidiknya telah terlihat sejak kecil, bahkan saat masih di bangku MTsN (setingkat SMP) Medan telah mampu mengajar Juz’amma dan Alquran bagi anak-anak di sekitar lingkungannya setelah Magrib hingga Isya di rumahnya.

Hobbinya membaca, menulis dan memasak. Saat masih duduk di bangku SD hingga SMA, Maya suka menulis buku harian dari apa yang dialaminya dan berkesan di hari tersebut. Awalnya dia mencoba mengirim puisi dan cerpen ke Harian Waspada, karena ayahnya berlangganan Waspada dari muda hingga tua sehingga Maya kecil saat itu sangat gemar membaca koran tersebut bahkan bertemu jodohnya pun dari kolom “Fans Waspada”. Setelah cerpen dalam kolom Remaja dan puisinya dalam kolom Abrakadabra untuk pertama kalinya dimuat (1992) , luar biasa rasa bangga dan bahagia hatinya sehingga Maya rajin menulis cerpen dan puisi ke Harian Waspada, koran nasional kebanggaan warga Sumut saat itu.
 

Namun saat kuliah di FKIP- UMSU Medan, (1993-1997) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia inspirasi menulis cerpen dan puisinya terhalang dengan segala kesibukan dan aktivitas kampus sehingga hobbi menulisnya hilang begitu saja.            

Setelah sepuluh tahun menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia di berbagai sekolah seperti SMA Medan Putri, MTsN Sidikalang, MAN 3 Medan, dan terakhir di MAN 1 Medan,  maka pada tahun 2013 jiwa kepenulisannya mulai timbul lagi dan mencoba menulis artikel, jurnal, puisi dan juga cerpen.
 

Alhamdulillah ternyata kemampuannya menulis masih dapat diasah kembali sehingga artikelnya yang berjudul, Chairil Anwar: Pujangga yang Penuh Misteri, dimuat dalam Majalah Pendidikan Indonesia (2013) dan Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Legenda Puteri Hijau. Selain itu jurnalnya pun dimuat dalam TIFA (Jurnal UMN Al-Washliyah Medan) yang berjudul, Tata Cara Perkawinan Melayu Deli: Analisis Pantun Meminang dan Pantun Nasi Hadap-hadapan (2014) dan Stilistika dalam Puisi Amir Hamzah dan Puisi Chairil Anwar (2016).
 

Setelah masa digital saat ini siapapun dapat mengikuti event atau lomba-lomba menulis puisi, cerpen dan artikel secara online yang diadakan oleh FAM, Poetry Publisher, Jejak Publisher, dengan hadiah-hadiah yang menarik. Maka dia pun mencoba kemampuannya untuk mengikuti setiap lomba menulis puisi online. Alhamdulillah walau tak selalu berhasil namun ada juga yang dapat diraihnya sebagai pemenang dalam menulis puisi online bahkan sudah ada beberapa yang menjadi buku antologi puisi seperti,  Antologi Puisi Ungkapan Cinta untuk Sahabat (2017), Antologi Puisi Sajak Cinta untuk Ayah (2018) dan yang sedang dalam proses terbit, Antologi Puisi Tentang Cinta (2018)  dan Antologi Cerpen Aksara Lampau oleh para siswa MAN1 Medan (2018).
 

Menulis karya sastra hingga menjadi sebuah buku adalah kebahagiaan tersendiri baginya juga dapat menjadi contoh bagi anak didik sebab guru zaman milenial saat ini dituntut tidak hanya berkata tapi juga berkarya. [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…