Skip to main content

PROFIL 75 PENULIS/PESERTA EVENT TER-AKTIF 2018 FAM INDONESIA; BUDI RAHMAH PANJAITAN


Budi Rahmah Panjaitan, memiliki banyak nama panggilan dalam kesehariannya. Banyak yang memanggil Budi, tidak sedikit yang menyebut rahmah dan ada juga yang menamainya mama. Semua bisa terdengar di telinga tiap harinya. Lahir pada tanggal 06 Oktober 1998, menjadikan usianya saat ini sudah genap 20 tahun. Saat ini ia mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Medan, tepatnya di Fakultas Ilmu Sposial, jurusan Pendidikan geografi.  Ia menjadi angkatan tahun 2016.

Mengenai cita-cita, sebenarnya pada mulanya ia ingin menjadi seorang new anchor. Namun jalan demi jalan yang ditempuh, justru menuju ke arah lain sebab ia masuk menjadi salah satu mahasiswi keguruan. Ia tidak pernah terbayang akan menjadi bagian dari itu, terlebih lagi jurusannya sekarang ialah pendidikan geografi. Sejatinya pelajaran yang ia sukai di SMA adalah Matematika dan Fisika.

Prinsip teguh yang selalu dipegangnya ialah “Allah SWT tidak pernah memberikan yang salah kepada hamba-hamba-Nya”. Apa pun yang terjadi adalah skenario yang di atas. Begitulah prinsip seorang Budi Rahmah Panjaitan.

Dalam dunia kepenulisan, ia mulai berkecimpung sejak 2016 silam. Semua dimulai dengan seringnya ia mengikuti event-event kepenulisan yang diadakan di facebook maupun website lainnya. Sertifikat-demi sertifikat terus terkumpul karena seringnya mengikuti event-event tersebut. Bukan hanya itu, berbagai buku antologi pun turut dihasilkan. Beberapa diantaranya berjudul “Bukan Kita, First Sight, Lewat Angin Kukirimkan Segenggam Doa Buat Abahku, Tanah Bandungan” dan masih banyak lagi lainnya. Meskipun belum bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah saat itu, setidaknya ia tahu bahwa itu kegiatan bermanfaat untuk mengasah keterampilan menulis dan menuangkan ide.

Waktu terus melaju hingga ia menemukan dunia baru yaitu dunia kepenulisan artikel dan menjadi blogger. Hingga saat ini, pekerjaan ini terus ia geluti di sela-sela perkuliahannya yang sangat sibuk. Bagaimanapun sibuknya, tetap ada waktu mengetikkan jemari di atas keyboard, atau sekadar merangkai puisi di atas kertas.

Beberapa platform tempat ia menulis ialah Babe, Nulis.co.id, Smarterway community, IDN Times, Plukme, Beautynesia Blog, Seowriter.co.id, writerpass.com dan ia juga menulis di blog pribadinya yaitu budirahmahpanjaitan.blogspot.com dan kerap ikut dalam lomba-lomba kepenulisan yang diadakan vemale.com. Saat ini, ia memang lebih terkonsentrasi menjadi seorang content writer dan setiap harinya menghasilkan 5 sampai 10 artikel. Syukur tidak terhingga darinya sebab saat ini ia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari hasil menulis tersebut.  

Belum lama ini, ia juga menerbitkan buku antologi bersama dengan 4 orang lainnya. Adapun penerbit buku tersebut ialah Penerbit Lini Rumput Merah dengan judul buku “Syair Para Pemilik Hati”. Jika ingin mengetahui lebih lengkap tentang dirinya dan tulisan-tulisannya, bisa langsung cari di google dengan mengetikkan namanya ataupun bisa stalker akun instagramnya di @budirahmah dan akun facebooknya bernama Budi Rahmah Panjaitan. [FAM]


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…