Skip to main content

Membangkitkan Budaya Menulis di Kalangan Guru


Judul: Membangkitkan Budaya Menulis di Kalangan Guru
Penulis: Noperman Subhi, S.IP., M.Si
Kategori: Nonfiksi
ISBN: 978-602-335-419-1
Terbit: Januari 2019
Tebal:  xi + 194 hal; 14 x 21 cm
Harga: Rp55.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

"Pikiran yang hidup adalah pikiran yang selalu bergerak mengolah berbagai data pengetahuan yang ada di dalam benak dengan menganalisis, mengasosiasikannya, memformulasikannya, menjadikannya resep pemecahan masalah, atau menemukan sesuatu yang baru." (Benjamin Samuel Bloom)

Buku "Membangkitkan Budaya Menulis di Kalangan Guru" perlu dibaca oleh para pendidik. Menulis harus menjadi sebuah budaya yang harus terus digalakkan. Menulis merupakan aktivitas budaya yang melibatkan seluruh otak, yaitu belahan otak kanan (emosional) tempat munculnya gagasan baru, gairah dan emosi. Sementara itu di belahan otak kiri (logika) tempat munculnya perencanaan, outline, tata bahasa, tanda baca dan penyuntingan. 

Para pendidik dituntut menulis dalam mengembangkan profesinya. Dengan menulis, para pendidik bukan hanya dapat meningkatkan jenjang karirnya, tetapi, menulis juga merupakan salah satu jalan untuk menjadi pendidik yang baik. Mengembangkan budaya menulis di kalangan pendidik menjadi sangat penting karena menulis merupakan upaya mengolah dan menorehkan pikiran. Kemampuan menulis para pendidik menjadi modal utama untuk merealisasikan proses pembelajaran yang memberdayakan pikiran atau nalar peserta didik. Menulis itu penting, karena menulis merupakan sarana komunikasi terpercaya untuk menyampaikan informasi yang lebih lengkap, sistematis dan terarah. Dengan menulis orang bisa terkenal. Tak terhitung orang yang bisa terkenal karena tulisannya. 

*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.


[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…