Skip to main content

PENGUMUMAN NOMINATOR LOMBA CIPTA PUISI BERTEMA “TASBIH CINTA"


Salam literasi. FAMili, hari ini Senin, 21 Januari 2019 FAM Indonesia mengumumkan 117 Nominator Lomba Cipta Puisi Bertema “Tasbih Cinta”. Setelah tim juri menyeleksi 606 naskah, maka terpilihlah 117  naskah nominator yang berkesempatan menjadi juara dan akan dibukukan. Meskipun tim juri menemukan banyak naskah yang bagus dan layak dibukukan, namun juri harus membatasi hanya 117 naskah terbaik yang dibukukan. Naskah-naskah ini akan diterbitkan dalam satu judul buku. Judul utama buku yang akan dipilih adalah judul puisi juara 1 (satu). Ke-117  naskah tersebut adalah:

Update berdasarkan urutan huruf Abjad A-Z

1. Achmad Dandy, Surabaya (Penggenggam Payung)
2. Ade Maulana, Meulaboh (Tinta Harapan)
3. Adenar Dirham, Bantul (Dalam Tasbih Cinta)
4. Adi Herlegowo, Bogor (Cinta Sejati)
5. Afifa Naila Nabila, Surakarta (Monolog)
6. Agam Hamdan Naiman, Acah Barat (Tasbih Cinta 1)
7. Agus Isnanto, Pati (Kata)
8. Ahmad Nyabeer, Sumenep (Surah Fatihatul Qalbi)
9. Ahmad Sholahuddin, Bojonegoro (Diorama Cinta)
10. Aida Nur Aini, Surakarta (Tasbih Cinta)
11. Akhmad Asy'ari, Sumenep (99 CAHAYA)
12. Akhyar Noor Qadri, Padang (Bidara Cinta)
13. Alfa Latifatul Wahidah, Tegal (Untaian Tasbih Cinta)
14. Alfina, Payakumbuh (Ratapan Pilu Penguasa Lembah Kelabu)
15. Ali Hamidi, Salatiga (Mengemis pada Tuhan)
16. Alvi Innayah, Yogyakarta (Wahai Adamku)
17. Alvian Rivaldi Sutisna, Bekasi (Resahku Risau)
18. Amanda Alia Wati, Cimahi (Setulus Kasih Tasbih Cinta)
19. Amelia Putri, Padang Pariaman (Jatuh Hati)
20. Ananda Nasyahra, Tangerang (Demi dan untuk  Si Pemudi)
21. Andy Samuel, Bandung (Sebuah Dilema)
22. Ardhian Nurhadi, Yogyakarta (Sepenggal Doa Lama Untukmu)
23. Arham Wiratama, Jombang (Di Samudra Mimpi)
24. Arian Pangestu, Jakarta (Kupetik Sunyi)
25. Arif Gusmarta Putra, Padang (Untaian Manik Manik Cintaku)
26. Aris Subagyo, Tangerang (Batas Kata Tak Berbatas)
27. Aulia Dwi Juanita, Bandarlampung (Tulisan Bertahan)
28. Ayu Bulandari, Tangerang (Cinta Sesungguhnya)
29. Aziz Alfi Syahrin, Jambi (Kita Percaya)
30. Bima Aryasena, Gresik (Di Ujung Keanggunan Malam)
31. Briliani Putri Pijar Pratiwi, Tangerang (Ayat Ayat Cintaku)
32. Chalimatus Sa'diyah, Kudus (Butir Cinta)
33. Cut Virda Mutiya, ? (Pesan Rindu)
34. Devi Melani, Lima Puluh Kota (Tasbih Cinta yang Terusik)
35. Dewi Anjani, Pati (Samarmu Perlu JelasNya)
36. Dian Pertiwi Subagio Putri, Malang (Tasbih Cinta)
37. Dita Ayu Kania, Kuningan (Jejak Kelembutan Hati)
38. Emha Ubaidillah, Bandung (Tasbih Cinta 1)
39. Endy S Johan, Sumenep (Semmar Tangis)
40. Erina Budi Purwantiningsih, Kediri (Tentang Senja)
41. Fadhilla Rizki, Palembang (Tasbih Biru Muda)
42. Faisal Alif A.S, Sumenep (Ziil Cinta)
43. Fajar Dwikinanto, Tegal (Tasbih Cinta)
44. Fani Risky, Jakarta (Ketika Seorang Penulis, Menulis Cinta)
45. Fani Wulan Sari, Batam (Batasan Rindu)
46. Farah Diana, Sumenep (Kasih Sang Budak)
47. Farah Lisa Nadiya, Tarakan (Kekasih Halal)
48. Farhan Rafifidananto, Purworejo (Kantong Cinta)
49. Fatmi Isrotun Nafisah, Purbalingga (Maglihai Rindu)
50. Ferry Dermawan, Surabaya (Jagalah Cintamu Tetap Abadi Selamanya)
51. Fida Halimah, Demak (Kelereng Hitam)
52. Firda Windi, Padangpanjang (Lantunan Cinta)
53. Firman Nofeki Sastranusa, Padang (Padamu Cinta Adalah Jatuh yang tak Sederhana)
54. Fitriana Nur Hanifah, Sleman (Aku Malu)
55. Galih M Rosyadi, Tasikmalaya (Di Tapal Laa Ilaaha)
56. Ghandistri, Bandung (Wahai Pendiam)
57. Gina Aulia Rohmatin, Lombok (Alunan Tasbih untuk Merpati)
58. Gita Eva Oktavia, Bandung (Renjana Beradu)
59. Hadeta Yorsi, Bengkulu (Maka Bertasbilah Cintaku)
60. Hafid Ahmad Fanshuri, ? (Pertemuan Jodoh)
61. Hafidatul Faisyah, Pamekasan (Cinta)
62. Hanin Nabila, Wiringinanom (Bisikan Hati)
63. I Gusti Ayu Sundari Okasunu, Denpasar (Aku Untukmu)
64. I Wayan Budiartawan, Bali (Bermimpi Bersama Bidadari)
65. Ifa Nur W, Bantul (Asmara Nada Menggema)
66. Ifah Lailatul Ibtida, Depok (Untuk Mu yang Sedang Tersenyum)
67. Imam Al-Ghazali, Sumenep (Malam Mengarun Rindu)
68. Inana Dwi Arfiantiningrum, Yogyakarta (Penantian)
69. Indrawan, Batam (Cinta yang Kekal)
70. Indriyana, Sumenep (Portal)
71. Intan Krusita, Surabaya (Biarlah Biar)
72. Intan Saputri, Sukoharjo (Alunan Tasbih Cinta)
73. Irfan Kaizan, Sumenep (Ibuku)
74. Khairul Iman, Cirebon (Atas Nama Rindu)
75. Khoirul Umam, Salatiga (Menggapai Cinta)
76. Liswindio Apendicaesar, Bogor (Twin Flame II)
77. Lydia Nahkluz Petrovaskaya, Bengkalis (4 Tasbih Cinta)
78. Maradona Sihombing, ? (99 Butir Cinta)
79. Mareza Sutan Ahli Jannah, Jambi (Aku Pulang pada Pelukmu)
80. Marisca Irgi Laochong, Malang (Yth. Aksmala Cinta)
81. Masdiana, S.Pd, Balikpapan (Tasbih)
82. Mayasari Manar, Bandung (Pesan Rinduku untukmu Perempuan Surgaku)
83. Melly Andriani Br Ginting, Taneh Karo (Aroma Malam)
84. Mey Marisa, ? (Barugbug)
85. MNU, Sukoharjo (Tarian Doa)
86. Mohammad Thariq, Pamekasan (Candu Asmara)
87. Muhamad Arby Hariawan, Bengkulu (Ode Dua Sukma)
88. Muhamad Kahfi, Bogor (Pukul Dua Puluh Lewat Lima)
89. Muhammad Zulfa Hikam Majid, Boyolali (Pecandu Rindu)
90. Muhlis Hatba, Bone (Hasrat Cinta)
91. Musannip Efriansyah, Palembang (Hitam Dipaksa Berdamping dengan Putih)
92. Naniek Rizky Meilinda, Kendal (Embun Hati)
93. Nella Aprillia, Karawang (Pasang Pujangga)
94. Nivos Krisman Waruwu, Kepulauan Nias (Nada Biru Berbunyi Abu-Abu)
95. Nur Kholifah, Cirebon (Pengagum Sendiri)
96. Nurwulansari, Kuningan (Irisan Hati)
97. Pipin Veronika, Wonogiri (Mencintaimu dalam Istiqarahku)
98. PN. Pieng, Sumenep (Bersama Tuhan Kucintaimu)
99. Puji Suniati, Malang (Tasbih dari Kayu Cendana)
100. Rahmi Mardatillah, Janeponto (Cinta-Mu)
101. Raja Mendrofa, Medan (Lingkaran Cinta)
102. Rini Asmarina, Bone (Kataku Katanya)
103. Rizky Dharmawan, Yogyakarta (Sembahyang Cinta)
104. Rofqil Junior, Sumenep (Ruang Sunyi)
105. Roni Ramlan, Tulungagung (Muhasabah Cinta Ilahi Robbi)
106. Saiful Bachri, ? (Rasa yang Menggoda)
107. Saiful Bahri, Sumenep (Wirid Rindu)
108. Salza Rahmita Wulandari, Bekasi (Logika Cinta)
109. Sarirotul 'Ishmah, Tuban (Sebagianku di Sana)
110. Seruni, Solo (Jembatan  Campuhan)
111. Sri Harum Satiti, Banjarnegara (Dalam Rengkuhan  Tasbih  Cinta)
112. Susan Tiara Dewi, Julok Rayeuk Utara (Mengayuh Rindu Butiran Tasbih)
113. Tasyrifa Anisa Hayyu, Sragen (Rindu yang Hilang)
114. Vivi Marlina, Batam (Warisan Butir-butir Tasbih)
115. Wawan G.C Simbolon, ? (Hati Anak Manusia)
116. Yudi Rahmatullah, Pandeglang (Surat Cinta Robert)
117. Zubaidi, Sumenep (Ayat-Ayat Rindu)

Seluruh naskah nominator akan dibukukan oleh FAM Publishing, namun penulis tidak mendapatkan bukti  terbit. Bagi yang ingin memesan bukunya bisa konfirmasi via email FAM: aishiterumenulis@gmail.com.

Nantikan pengumuman 20 Naskah Terpilih, 23 Januari 2019. Pengumuman Pemenang, 25 Januari 2019. 

Terima kasih atas partisipasi dan antusias Anda semua mengikuti event-event FAM Indonesia. Bagi yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Tetap semangat menulis dan ikuti event-event FAM Indonesia lainnya. 

*Seluruh pemenang dan peserta akan mendapatkan piagam penghargaan. Piagam akan dikirim secara bertahap melalui email setelah tanggal 5 Februari 2019. Batas pengiriman piagam 28 Februari 2019. 


Salam aktif, salam literasi!
FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…