Skip to main content

Profil Penulis: ANISA NURAINI (Penulis Novel Terpilih Terbit Gratis di FAM Publishing Berjudul “Senja”)


Anisa Nuraini, Sering dipanggil “Kak Nisa” dan di singkat “KN” dalam setiap kutipan kata-katanya. Seorang perempuan yang lahir di Sampang, 24 Juni 1995. Anak pertama dari pasangan Nur Hasan dan Choiriyah dengan lima bersaudara. Perempuan yang memiliki darah Jawa – Madura ini adalah lulusan tahun 2016 dari kampus yang  terkenal di Madura yaitu Universitas Trunojoyo Madura dengan jurusan Psikologi. Kini ia memiliki kegiatan mengajar atau terapi anak berkebutuhan khusus, hobinya menulis dan berpetualang.

Sejak sekolah dasar (SD), ia sering menulis diary. Tulisan-tulisan itu hanya sebuah tulisan lalu hilang dengan berjalannya waktu. Duduk di bangku SMP membuatnya ingin mendalami dunianya para penulis, salah satunya dengan mengikuti ekstrakulikuler puisi. Tapi, tidak berlangsung lama dan tulisan-tulisan itu kembali hilang.

Menjadi mahasiswa dan seorang aktivis di kampus, membuat ia menulis kembali tentang rasa dan hal yang tidak sesuai dengan dirinya. Tulisan-tulisan itu dimuat pada fanpage pribadinya. Tulisan-tulisan yang kadang tidak berarti bagi sebagian orang, sangat ingin untuk dibukukan agar dapat memberikan manfaat. Baik itu motivasi atau inspirasi.

Pada tanggal 12 September 2017 ia resmi menjadi anggota Forum Perempuan Berkarya (FPB) dengan nomor anggota FPB085. Ia telah mengikuti beberapa event penulisan yang diadakan oleh FAM dan FPB. Ia juga miliki dua buku antologi puisi yang ditulis bersama dengan peserta terpilih event menulis, buku ke satu berjudul “PESAN CINTA UNTUK SAHABAT” dan buku yang ke dua berjudul “JIKA.”

Buku terbaru yang lulus seleksi event “Terbit Naskah Gratis” yang diadakan FAM adalah novel. Sebuah cerita yang diangkat dari kisah perjalanan seorang perempuan dalam memperjuangkan rasa keinginan untuk hijrah, yang berjudul “SENJA.”

Baginya tulisan itu lebih tajam daripada pedang karena akan terus ada dan dibaca banyak orang. Apalagi tulisan-tulisan yang dapat memberikan manfaat dan menjadikan orang lain termotivasi atau pun terinspirasi.[FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…