Skip to main content

Profil Penulis: Irja Nasrullah (Penulis Novel Terpilih Terbit Gratis di FAM Publishing “Rahasia-Rahasia Dalia”)


Irja Nasrullah adalah nama pena dari M. Irja Nasrulloh Majid, Lc., Dipl. Lahir di Abepura, 24 Februari 1989. Penulis yang berasal dari Desa Mayungsari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo ini, pernah menjadi santri di PPTQ Al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo. Saat ini masih melanjutkan studi di Kairo, Mesir.

Mulai aktif menulis sejak di SMA dan menjadi Pimpinan Umum Majalah LENTERA (2005) SMA TAQ Wonosobo. Saat di SMA, naskah sandiwara milik penulis yang berjudul Aku Memang Cinta, dimainkan dan diudarakan di 98.8 POP FM Wonosobo. Penulis yang sering diundang untuk mengisi acara seminar kepenulisan di kalangan Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) ini sudah menerbitkan 21 buku, yang mayoritas nonfiksi motivasi keislaman.

Menurut Irja, menulis adalah mewarisi tradisi ulama, ilmuwan, cendekiawan dan kaum intelektual. Hanya orang-orang terpilihlah yang mampu mewarisi tradisi tersebut, karena untuk menjadi “penulis sejati”, diperlukan perjuangan serta pengorbanan tanpa henti—dan kenyataannya banyak penulis pemula yang tumbang di tengah jalan. Dia juga mengatakan, “Jangan sampai kita menjadi penulis model semut, tetapi jadilah penulis yang benar-benar penulis.”

Penulis yang dimaksud model semut menurut Irja adalah penulis yang pintar mengutip referensi dari sana-sini dalam tulisannya, tetapi tidak memahami betul maksudnya. Jadi penulis tipe ini, hanya pintar mengumpulkan referensi, tetapi tidak mengetahui secara pasti mana referensi yang layak dikutip dan mana yang tidak; mana yang kualitasnya bagus dan mana yang tidak. Ia juga tidak mampu menganalisis referensi yang diperolehnya secara mendalam; yang penting mengumpulkan referensi, mengutip sana-sini, sekiranya cocok dengan tema tulisannya. Itu saja. Ini mirip dengan semut yang secara umum hanya mengumpulkan makanan dari sana-sini tanpa menyeleksi kelayakannya.

Sejak aktif menulis buku, kedua orangtua Irja selalu mendukungnya. Hal itu pulalah yang menjadikan dirinya terus bersemangat menulis, karena menurutnya, keridaan kedua orangtua adalah keridaan setelah Allah dan Rasul-Nya. Jika orangtua sudah rida, segala insya Allah insya Allah akan mendapatkan restu-Nya. Sosok-sosok lain yang mendorong Irja untuk tetap menapaki jalan kepenulisan adalah dukungan para pembaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dukungan mereka adalah energi positif yang menjadikan semangat menulis terus menyala.  

Penulis yang memiliki hobi bercocok tanam ini, menjadikan realitas sehari-hari sebagai sumber inspirasi menulis. Dia berusaha merenungkan dan menganalisis segala sesuatu yang ditangkap pancaindranya. Setelah itu, mencatatnya dalam buku atau gawai (gadget). Jika sudah ada kesempatan khusus, baru dia memindahkan catatan-catatan tadi ke komputer.  Kebiasaan mencatat inspirasi sehari-hari di buku ini telah dimulainya sejak duduk di bangku SMA.

Irja dalam bukunya, Kenapa Kita Rela Tertinggal (Quanta, 2018), mengatakan bahwa hal konkret yang bisa menjembatani seseorang untuk memulai berkarya adalah dengan cara meniru. Dia mengutip perkataan Yohji Yamamoto, “Mulailah meniru yang kamu suka. Tiru, tiru, tiru, tiru. Suatu saat kamu akan menemukan dirimu sendiri.”

Meniru yang dimaksud adalah berlatih dan bukan plagiat. Plagiarisme sendiri “copy-paste” karya orang lain, lalu mengklaim karya tersebut sebagai karya kita pribadi. Ini sama sekali tidak dibenarkan. Meniru bisa dipahami dengan mengutak-atik. Ibarat montir yang membongkar mobil dengan tujuan mencari tahu cara kerja mesinnya.

Irja juga memberi pesan kepada pemula agar mulai mencari sosok yang akan ditiru, lalu temukan apa yang akan ditiru. Untuk mencari sosok yang akan tiru mudah saja; siapa yang selama ini dijadikan teladan dan menginspirasi, itulah yang layak ditiru karyanya. Tirulah juga hal-hal di balik karyanya, misalnya cara berpikirnya, cara memanajemen waktu, cara menemukan inspirasi, dan lain sebagainya.

Senada dengan hal ini, Francis Ford Coppola mengatakan, “Curilah ide dari kami. Gabungkan dengan ciri khasmu. Maka kau akan temukan dirimu sendiri. Begitulah prosesnya. Suatu hari, kelak ada yang mencuri ide darimu.”

Hal yang sangat urgen lainnya bagi para penulis pemula—menurut Irja—adalah bergabung dengan komunitas menulis. Berdasarkan pengalamannya, komunitas menulis akan menjadi jembatan untuk berkenalan dengan penulis lain, berbagi kritikan positif, menjalin relasi dengan penulis senior, bahkan menjalin relasi dengan para editor buku serta orang-orang yang berkecimpung dalam dunia penerbitan. Saat bergabung dengan komunitas, ide-ide mendapatkan dimensi-dimensi baru. Kelemahan-kelemahan lebih cepat diungkap. Hal-hal yang kurang masuk akal lebih mudah terlihat. Masukan-masukan positif akan didapat. Konsep-konsep lebih cepat dibuat.

Demikian, sekilas profil Irja Nasrullah dan beberapa tips menulis yang dia berikan. Dia membuka silaturahmi seluas-luasnya di e-mail: elnasr89@yahoo.com, Facebook: Irja Nasrullah, IG: @irjanasrullah, Twitter: @irjanasrullah

Semoga menginspirasi kita semua. Jangan lupa berkarya, teman-teman, ya! [FAM]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…