• Info Terkini

    Thursday, January 31, 2019

    Yudi Rahmatullah, Sabet Juara 1 Lomba Cipta Puisi Bertema “Tasbih Cinta”


    Kediri, FAMIndonesia.com — Sebagai salah satu ruang terbesar bagi pecinta dan pelaku literasi, FAM Indonesia yang akan genap tujuh tahun pada 2 Maret mendatang terbilang konsisten menyuntikkan semangat menulis di ruang sosial dan melalui media daring. Jumat (25/1/2019) lalu, FAM kembali merilis tiga juara sayembara puisi bertema Tasbih Cinta.

    Yudi Rahmatullah, pria asal Pandeglang ini berhasil meraih juara satu dengan judul puisinya “Surat Cinta Robert Mellema untuk Mama”. Yudi mengaku puisinya kali ini terinspirasi dari novel Tetralogi Pulau Buru, karangan Pramoedya Ananta Toer.
    “Kalau tidak salah setelah membaca novel yang pertama dan keduanya; Bumi manusia dan Anak Semua Bangsa,” ujar Kontributor Travel Writer tersebut saat dihubungi tim media FAM, Senin (28/1/2019).

    Dari kedua novel itu, Yudi melanjutkan, jelas sekali perjalanan hidup Robert Mellema, anak pertama dari Nyai Ontosoroh. Awalnya Robert tidak mengakui ibunya karena berbeda budaya dengan ayahnya, atau karena ibunya yang hanya seorang selir.

    Perjalanan kehidupan seorang Robert yang berliku dan mengajarkan tentang arti cinta terhadap keluarga, terutama kepada perjuangan seorang ibu itulah yang menggerakkan Yudi untuk menuangkannya kembali dalam bentuk bait-bait puisi.

    “Judul Surat Cinta Robert Mellema untuk Mama, diambil karena memang Robert berkirim surat kepada ibunya. Isi surat tersebut menerangkan penyesalannya yang mendalam karena kesalahan-kesalahannya terdahulu kepada mama. Melalui surat itu juga dia meminta maaf kepada Mama karena telah menjadi anak yang durhaka, kemudian dia mengungkapkan rasa cintanya, satu kata yang mustahil untuk diucapkan seorang Robert Mellema kepada Mamanya,” terang pengajar bahasa Inggris ini.


    “Maka, tergerak hati saya untuk membuat puisi tentang perjalanan hidup seorang Robert Mellema,  yang menurut saya bisa menjadi contoh bagi semua orang agar kita tidak berlaku seperti Robert,” imbuhnya.

    Diakui Yudi, puisi ini sudah ia tulis sejak lama. Rencananya akan dijadikan buku antologi puisi. Namun justru ia kirimkan sebagai peserta lomba menulis puisi Tasbih Cinta dari FAM.

    Menurutnya, ini dilakukan agar puisi tersebut dapat menjadi contoh bagi semua penulis, bahwa sebenarnya kita bisa mendapat inspirasi puisi dari mana saja, seperti contoh dari novel yang sudah kita baca. 

    Yudi mengatakan, dirinya ingin mengangkat tokoh Robert Mellema dan Nyai Ontosoroh (Mama). Apakah dengan judul tersebut, orang-orang yang membacanya akan mengenal dua karakter yang ia ambil dari sebuah Tetralogi yang sangat terkenal dan ditulis oleh pengarang hebat Pramoedya Ananta Toer atau tidak. 

    “Kebetulan puisi ini bertemakan ungkapan rasa cinta, sesuai dengan tema lombanya, Tasbih Cinta yang menurut saya, dengan tema tersebut mungkin puisi kita tidak harus tentang mengungkapkan rasa cinta secara pribadi kepada seseorang. Tetapi juga dengan mengambil bagian cerita dari sebuah novel, hal itu bisa kita jadikan inspirasi untuk sebuah puisi,” ungkap Yudi.

    “Ini kali pertama dan saya tidak menyangka sebelumnya, bahwa puisi saya mendapat apresiasi dari FAM. Terima kasih banyak,” tambahnya.


    Yudi meyakini, keberhasilan karyanya menyabet gelar juara satu dikarenakan cerita hidup Robert Mellema banyak juga ditemui di kehidupan nyata. Sehingga saat menuliskannya, ia merasa tidak asing dan sudah mengenal, serta merasakan cerita hidup yang sama seperti cerita keluarga Nyai Ontosoroh. Demikian juga ia meyakini hal yang sama bagi pembacanya.

    Yudi sendiri tidak memiliki waktu khusus atau sengaja mencari ide untuk menulis. Karena baginya, ide menulis puisi itu terkadang datangnya tiba-tiba. Ide tersebut bisa didapatnya saat membaca dan traveling. Karena, saat membaca atau melakukan perjalanan liburan, dirinya banyak memerhatikan karakter orang dan juga keindahan alam.

    “Untuk FAM, terima kasih telah mengapresiasi puisi saya, karena dengan itu saya bisa menyampaikan pesan kepada semua orang bahwa, membaca menjadi kegiatan yang penting yang bisa kita gabungkan dengan menulis. Saya juga sangat bangga kepada mereka yang telah bersusah payah membuat puisi dan mengirimkannya. Mereka masih mempunyai rasa semangat untuk berkarya, berprestasi, dan berkompetisi secara baik di suatu perlombaan,” paparnya.

    Dengan kemenangannya kali ini, Yudi tak ingin berbangga diri. Ia ingin menyebarkan virus literasi dari karya-karyanya, Yudi berpesan agar generasi sekarang terus berkarya. Sebab, dikatakannya, hanya karya-karya itulah yang menjadikan kita berbeda dengan kebanyakan orang. 

    “Untuk FAM, selain puisi,  semoga FAM juga berkesempatan untuk mengadakan lomba menulis cerpen, artikel, atau essai,  sehingga keragaman jenis tulisan bisa FAM perkenalkan melalui gelaran-gelaran perlombaannya,” tandas Yudi Rahmatullah. [Tim Media FAM]

    Keterangan foto: Foto 1 & 2: Yudi Rahmatullah saat jadi juri menulis

    Foto 3: Yudi Rahmatullah usai diskusi novel Bumi Manusia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Yudi Rahmatullah, Sabet Juara 1 Lomba Cipta Puisi Bertema “Tasbih Cinta” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top