Skip to main content

Jejak Rindu Jakarta-Hongkong


Judul: Jejak Rindu Jakarta-Hongkong
Penulis: 121 Penulis
Kategori: Surat
ISBN: 978-602-335-397-2
Terbit: Januari 2019
Tebal:  xiv + 362 hal: 14 x 21 cm
Harga: Rp70.000,-
(Harga belum termasuk Ongkir)

14 Naskah Terpilih
Brillian Eka Wahyudi, Ferril Irham Muzaki, Raja Mendrofa, Lydia Nakhluz Petrovaskaya, Mellisa, Meri Indrasari, Mohammad Thariq, Muhammad Iqbal, Munandar Priyo Sudarmo, Nata Carol, Rahayu Widayanti, S.Si.,M.Pd, Rahma Hayyu Puspita Dewi, Ria Juliantika, Rusmiah Intang Baleleng

121 Nominator
Addina Isaputri, Agus Nurjaman, Aida Fitriyati, Aisyah Zahra, Al-Rizky Pratama, Alan Zakiya Permana Wati, Alifia Shahnaz, Aminah Sasi Mei, Analysa br Surbakti, S.Pd, Andhika Reza Agustyanto, Anelia Kartika, Apri Kuncoro, Arlisah, Asnul Uliyah, Aya K, Ayu Putri Lira, Beta Karlistiyaningsih, Brilliani Putri Pijar Pratiwi, Christy Jonathan, Darin Rindiani, Darmiani, Desi Indriyani, Devi Noviati, Dewi Nala Husna, Dhea Ayu Septya, Diah Kartika Sari, Dimas Wahyu Kurniawan, Dina Andriani, Dwi Oktoviani, Dwi Sukmawati, Eli Wahyuni, Elsa Mulyani, Ety Sri Wulandari, Eyik Widyansyaficha Marsudi, Fachrul Azka, Fahma Mamluatul M, Faza Adilla, Febri Agrian, Fitri Amolda, Fitri Yani Hasibuan, Frida Ghina Syukriyya, Gendhuk Gandhes, Hanaa Noormaningtyas, Hanifah Salsabila, Helen Rumiris, Herawati Nur, Herlina Yanti, Honorius Arpin, Ika Maisaroh, Indah Yuliati, Indira Azalia Dewi, Irma Mutiara Sari, Irta Safitri, Jacklyn Uly Manuela, Jeny, Juhamidah Anjayani Salrah, Jumriani Idris, Khoirul Umam, Lina Latifah, Luthfi Khoirunnisa, Lus Viana Dewi, Masriyani, Muhammad Rifani, Muhammad Hafidz Agraprana, Muhammad Gusri, Maina Gurinci, Maria Ulfa, Miftahul Husna Nasution, Monika Maharani, Nabila Nikmatul Laeli, Nabilah Putri Rulia Salma, Nevia Ika Utami, Ni'matul Khoiriyyah, Nia Yelisia Saragih, Nila Prawesti, Nina Herlina Fauziah, Nuraini, Nurhidayah Tanjung, Nurtika Aprilia, Nurul Fitriani Salim, Nurul Hanivah, Nurul Istiawati, Novita Wulandari, Rachel Chinthia, Reza Gunawan, Rina Pujiarsih, SE.S.Pd, Riska Putri Taupik, Riski Fidiana, Rizky Wahyu Saputra, Rose Handayani, SF Ibnu Firsa, Shovy Ramadhanti, Singgih Suseno, Sofian Hadi, Sri Rahayu Fatimah, Sri Rejeki, Sulistiani, Syafa'atul Ummah K.A, Syifa Nabilah Azzahra, Taufik Alfarizi, Tika Coelogyne, Waliyatun Naila, Wilda Ayu Atika, Wita Meydiana Iskandar, Wiwit Amalia, Wulantri, Widut Widwi Astuti

Di buku ini, telah terkumpul 121 surat pilihan hasil pemikiran kreatif para penulis Indonesia dengan tema "Ungkapan Hati". Dengan adanya buku kumpulan surat berjudul "Jejak Rindu Jakarta-Hongkong" ini, diharapkan dapat memantik motivasi para generasi muda Indonesia untuk lebih gemar menulis.

*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.


[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…