• Info Terkini

    Monday, March 11, 2019

    Ekspedisi Literasi Kampung Lawas Maspati, (Surabaya)


    Milad Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Ke-7

    Oleh: Chania Ditarora

    Rabu siang, surya membelai bumi cukup riang. Memantapkan langkah berekspedisi literasi ke Kampung Lawas Maspati, Surabaya. Semangat berlipat bahkan cendrung nekat. Saya dan saudara Sopian Ansori memutuskan berangkat siang itu juga. Saya katakan nekat karena sepeda motor yang kami gunakan tanpa kaca spion. Diperparah saya tidak bawa alat bantu dengar. Tak pelak lagi aral perjalanan menghadang. Beberapa ratus meter sebelum pelabuhan penyeberangan, kami kena e-tilang polantas polres Lombok Barat.

    Meski begitu, tak menyurutkan tekad kami untuk melanjutkan perjalanan. Setiap rintangan, bagi kami adalah bunga rampai setiap perjalanan. Setiba di pelabuhan, menyempatkan shalat zuhur sebelum naik ke kapal. Rabu, sekitar pukul 16.00 WITA, kapal yang kami tumpangi melepas sauh. Mengarungi selat Lombok dan laut Jawa.

    KMP Legundi yang kami tumpangi dengan gagahnya membelah lautan. 20 jam bersensasi menikmati setiap sisi dari kapal Legundi. Kami tiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kamis, pukul 12.30 WIB. Di sambut pekik selamat datang dari moncong kapal menambah energi menyapa Surabaya yang panasnya bagi kami tak bersahabat. Ramahnya keberterimaan arek Surabaya tidak diikuti ramahnya panas Surabaya.


    Sebagai pendatang, mau tidak mau harus menerima seringai panas Surabaya. Memanfaatkan waktu 2 hari sebelum hari-H acara, kami mencoba beradaptasi dengan cuaca panas sekaligus menyeksamai tempat kami menginap. Bersyukur tempatnya representatif. Tak jauh dari Kampung Lawas, Maspati.

    Jelang Matahari kembali ke peraduannya, kami tiba di Kampung Lawas, Maspati Surabaya. Senyum dan peluk hangat Tengku Lihar Amin serta Horas Arif membuyarkan kekakuan setelah sepersekian detik terhipnotis diorama kampung di depan kami. Didampingi panitia menuju penginapan, hati bersoneta ria. Campur aduk. Antara bahagia dan dagdigdug sesaat lagi bertemu dengan Penghuni Rinai Kabut Singgalang dan Pemilik Senyum Gadis Bel’s Palsy. Sebelumnya kami hanya berkomunikasi via sosial media. Ternyata paras dan pesona mereka berdua di dunia maya dan dunia nyata tidak jauh beda.

    Dengan membaca basmalah kami memasuki penginapan. Terlihat kedua petinggi FAM sedang duduk santai. Berbeda dengan kami yang terlihat canggung. Namun semua tak berlangsung lama. Rasa itu menguap seiring keramahtamahan mereka. Layaknya anggota keluarga yang telah lama berpisah. Bersua kembali. Tentu suasana hati berirama tak menentu.

    Bakda magrib acara inti dimulai. Diawali dengan perkenalan serta sharing suka duka menulis. Doa bersama. Pemotongan Tumpeng sebagai simbol FAM berusia yang ketujuh. Dari sharing tersebut menitik beratkan pada kiprah FAM di masa depan.

    Keesokan harinya rangkaian acara Milad Fam ke-7 Dengan Tema WRITING CAMP TEMU PENULIS dimulai. Acara dibuka dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Bidadari Timur asal Sorong, Papua Barat. Suara merdunya menguar memberkahi acara tersebut. Peserta dan tamu undangan khusyuk masyuk mendengar lantunan ayat suci. Kesederhanaan acara tersebut pun berubah menjadi sakral.


    Tamu undangan dari instansi terkait terlihat antusias. Acara sederhana namun khidmat ini semakin istimewa dengan kehadiran orang yang paling bertanggungjawab terhadap perkembangan literasi di Jawa Timur. Dalam sambutannya, Bapak Dr. Ir. Abdul Hamid mengapresiasi dan mendukung setiap acara yang diadakan FAM. Ia berharap FAM menjadi ikon Literasi provinsi Jawa Timur. Tidak lupa di sela sambutan, ia menyelipkan kata-kata motivasi. Menurut Kadis Perpustakaan & Kearsipan itu, judul dan konten sebuah buku sangat berpengaruh dalam menarik minat pembaca.

    Tidak kalah spesialnya pembicara dari intern FAM sendiri. Mulai dari Muhammad Subhan (Ketum FAM), Reffi Dinar, Handoko, dan lainnya turut berbagi ilmu dan inspirasi. Bagi kami tentu ini merupakan ilmu yang berharga. Tak salah jika orang bijak mengatakan bahwa “setiap perjalanan adalah belajar” . Tidak ada perjalanan yang sia-sia tersebab darinya akan ada warna baru. Baik itu ilmu, teman, dan suasana yang tentunya terbarui.

    Selain itu, kegiatan ini juga kian terasa beda dengan lainnya manakala melihat dari perspektif lokasi acara. Memilih sebuah kampung di pusat kota sebagai tempat event tentu terbetik stigma negatif di benak. Kampung di pusat kota selama ini diidentikkan dengan kumuh, kotor, berbau, dan tentunya tak ramah bagi pendatang.

    Namun kampung Lawas Maspati seakan meruntuhkan stigma buruk yang sudah mengakar di tengah masyarakat. Bagaimana sebuah kampung dengan beragam karakter masyarakatnya bisa diberdayakan dan dipersatukan untuk menghijaukan kampung. Tentu butuh waktu yang tidak singkat untuk mengkondisikan kampung Lawas Menjadi Asri di tengah hiruk pikuk kota Surabaya. Sangat tepat rasanya jika panitia FAM Surabaya memilih kampung Lawas, Maspati sebagai tempat acara. Sebuah upaya dan ide yang pantas diacungi jempol. Dengan itu lelahnya perjalanan kami yang jauh dari Lombok terbayar oleh keindahan, keramahan, dan keberterimaan warga kampung Lawas, Maspati kepada kami.

    Lombok Tengah, 070319

    #Literasi
    #CatatanPerjalanan

    Sumber: https://goresanpenachaniagmail.wordpress.com/2019/03/09/ekspedisi-literasi-kampung-lawas-maspatisurabaya/?fbclid=IwAR2ASe0dth3NHj9bRG0E5AEUnKa7ajvqb1a1iX4lgW-JUgXJgWhgGpNb-uA

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ekspedisi Literasi Kampung Lawas Maspati, (Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top