• Info Terkini

    Tuesday, March 26, 2019

    Gerakan Literasi FAM Surabaya di SDIT Al-Uswah Surabaya


    "Dengan Membaca Aku Mengenal Seisi Dunia, Dengan Menulis Seisi Dunia Mengenalku." Itulah quote yang disampaikan Kak Evie dan Kak Yudha dari FAM Surabaya kepada 30 adik-adik kelas 3 SDIT Al Uswah Surabaya pada hari Senin, 25 Maret 2018. Bekerja sama dengan Badan Perpustakaan dan Kearsipan (Bapersip) Provinsi Jawa Timur, mereka mengkampanyekan pentingnya kegemaran membaca dan menulis sejak masih usia anak-anak. 

    Dengan kemasan bahasa tutur yang mudah dipahami namun menyenangkan, Kak Evie dan Kak Yudha memotivasi adik-adik Al Uswah untuk suka membaca dan cinta menulis.


     Di bagian penutup, Kak Evie juga menampilkan salah satu keahliannya sebagai seorang ibu yaitu storry telling dengan menyajikan cerita "Cetakan Kue Ajaib".
    Seperti lazimnya anak-anak, siswa Al Uswah pun memiliki cita-cita. Ada yang ingin jadi pilot, dokter, polisi, dan banyak lagi. Namun apa pun cita-cita pilihan mereka, semua mempunyai satu kebutuhan yang  sama, yaitu membaca. Karena hanya dari membaca manusia akan mengetahui banyak ilmu pengetahuan, khususnya yang menunjang tercapainya cita-cita.

     "Bayangkan jika calon dokter tidak suka membaca buku tentang penyakit dan cara mengobatinya, bisa-bisa nanti orang sakit gigi disuntik perutnya," begitu logika sederhana yang disampaikan Kak Yudha.

    Lebih mendasar lagi, Kak Evi menyampaikan bahwa seharusnya manusia itu sudah dibiasakan untuk suka membaca sejak masih di kandungan. Dengan cara apa? Dibacakan (terutama ayat-ayat Allah), oleh ibunya. Sedangkan Kak Yudha juga mengingatkan, sebelum turunnya perintah salat dan ibadah lainnya, perintah yang pertama kali turun adalah "Iqra Bismirabbikalladzi Khalaq" yang artinya "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan". Bagaimana bisa salat dengan benar kalau tak pernah tahu bacaan-bacaan dan ilmu-ilmu tentang salat?

    Lalu apa pentingnya menulis? Setidaknya ada dua. Menulis adalah cara efektif mengikat ilmu. Jika tak diikat, dikhawatirkan ilmu akan lepas dari memori manusia. Dengan menulis, manusia juga bisa berbagi ilmu bermanfaat sehingga seisi dunia pun mengenalnya. Apa jadinya jika tak satu pun manusia menulis buku? 


    Persoalannya, dari mana anak-anak bisa mendapat bacaan-bacaan sehat berkualitas? Di sinilah peran para pegiat literasi, termasuk pustakawan sekolah dan juga Bapersip Jawa Timur. Ironis jika kampanye literasi gencar dilakukan tetapi anak sekolah tak tahu di mana perpustakaan, tak mendapat layanan terbaik untuk bisa mendapat bacaan sehat, atau tak menemukan  bukunya karena koleksi di perpustakaannya masih sangat minim. 

    Sinergi dalam rangka menumbuhkan budaya literasi pastinya akan makin baik dengan adanya keterlibatan para pelaku pendidikan di sekolah. Sudah saatnya sekolah tidak masuk dalam polemik perlu atau tidaknya Ujian Nasional atau terjebak pada kebanggaan atas capaian 100% tingkat kelulusan,  kalau kenyataannya kecakapan literasi pelajar Indonesia ada di peringkat 63 dari 72 negara peserta kompetisi PISA 2018. [Laporan Koordinator FAM Wilayah Surabaya]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Gerakan Literasi FAM Surabaya di SDIT Al-Uswah Surabaya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top