• Info Terkini

    Saturday, March 23, 2019

    Monolog Puisi untuk kumpulan buku puisi “Solilokui” karya Laras Sekar Seruni: Rasa dan Kata yang Mencipta Irama


    Oleh: Ayu Alfiah Jonas

    Puisi, karya sastra paling purba di dunia. Konon, puisi sanggup menjaga
    kemisteriusan manusia dan kedalaman bahkan absurdnya dunia ini. Dunia memang
    tak pernah baik-baik saja. Setiap hidup manusia semenjak lahir hingga matinya tak
    berupa kertas putih semata. Ada beragam warna tergores di sana. Bukan hanya hitam
    dan putih, warna burgundy, beige, khaki dan abu-abu pun turut ada. Puisi menjadi
    wadah bagi tiap warna untuk menjadi kekal, tak pernah habis dibaca. Kita selalu bisa
    membaca ulang sebuah puisi dan selalu dikejutkan dengan respons yang berbeda-beda
    dalam setiap peristiwa pembacaannya.

    Keberhasilan sebuah puisi bisa dilihat dari kesanggupan penyair untuk
    mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam kata. Ada dua hal berperan penting
    di dalamnya: pikiran dan perasaan. Keduanya bekerja sama membentuk kata,
    menyatukan kata demi kata menjadi baris demi baris, lalu bait demi bait, menjadi
    puisi yang memiliki irama tersendiri. Irama yang takkan pernah sama dalam satu puisi
    dengan puisi lainnya, karya penyair satu dengan penyair lainnya meski menulisan
    dengan tema spesifik yang sama.

    Puisi terus bekerja. Kita diajak merasa dalam bahasa. Bahasa menjadi sangat nyata
    ketika dituangkan dalam puisi sebab menyatu dengan pikiran dan perasaan penyair.
    Penyair mengungkapkan, berkreasi, menulis larik-larik puisinya berdasarkan
    pengalaman pribadi. Puisi bukan sekadar proses kreatif berdasarkan pengalaman.
    Puisi jauh lebih kaya sebab telah membuktikan tampilan verbal dari proses berpikir
    yang dialami penyair. Puisi, hasil pemikiran dan perasaan yang dikistralkan.
    Begitulah perasaan saya saat membaca buku puisi Laras Sekar Seruni, Solilokui.
    Membaca buku puisi bagi saya selalu tak mudah sebab kata-kata dalam puisi terasa
    sungguh agung dan bermakna tinggi. Laras berhasil meramu diksi-diksi dalam
    puisinya menjadi irama yang berbeda-beda, membawa makna yang berbeda pula.
    Saya melihat cara berpikir, cara pandang dan kepekaan yang konsisten di sana: apapun yang terlihat dengan mata, tercium oleh hidung dan tersentuh dengan tangan
    adalah puisi yang belum jadi.

    Laras merespons apa pun yang pernah terjadi dan ia saksikan sehingga irama dalam
    setiap puisinya punya keunikan tersendiri. Membaca satu per satu puisinya membuat
    saya meloncat terus menerus. Laiknya sebuah kamera, puisi-puisi Laras menangkap
    realitas yang ada. Bukan hanya yang terlihat mata, puisi-puisi Laras mencerminkan
    ungkapan pemikiran dan perasaan yang lugas. Saya akan mengambil tiga diantara
    90-an puisi yang bisa mewakili.



    Pemikiran Dalam Puisi

    Kematangan berpikir Laras ditunjukkan dalam: “semalam, kita/lupa membaca/kisah
    wanita/yang ditanam sembilu/di samping sungai berantas/deras/memeras
    jentik-jentik/pusakanya/ke mana dia pergi/setelah/diperkosa waktu/yang seolah/abadi,
    sayang?/masihkah/ia/meminang/rembulan/di/rerumput/ger-sa-ng/di/padang/bayang-ba
    yang/?” (Perempuan Berkalung Bayangan). Laras tak hanya menuliskan pemikiran
    dan perasaannya saja, ia menarik keduanya ke tengah persoalan yang lebih luas:
    kemanusiaan dan negara. Dalam puisi berjudul Perempuan Berkalung Bayangan,
    Laras menulis catatan “;untuk Marsinah dan orang-orang yang haknya dibungkam
    kekuasaan.” Pikiran dan perasaan kita pun melayang jauh, mengingat perempuan
    yang dihantam ketidakadilan di negerinya sendiri, Marsinah, aktivis dan buruh yang
    diculik dan dibunuh di masa Orde Baru. Sejarah kelam yang menikam kehidupan kita
    sampai sekarang, terbayang terus, bayangan Marsinah mengepung hidup.
    Perempuan Bekalung Bayangan membawa kita kembali menengok sejarah.

    Mengingatkan bahwa kita lupa. Ada luka yang belum terobati dan kita diajak untuk
    menengoknya sesering mungkin. Kegelisahan itu harus ada sebab kita adalah manusia,
    sama-sama warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.
    Dalam Perempuan Berkalung Bayangan, kasus Marsinah kini hanya sebuah bayang.
    Bayangan masa lalu yang terus menghantui masa kini bahkan masa depan kita. Di sini
    kita bisa melihat, puisi punya kekuatan yang cukup besar untuk menumbangkan apa
    yang salah dan menguak kebenaran.

    Perasaan Dalam Puisi

    Mendedah puisi mesti berkaitan dengan isi, inti dan nilai ciptaannya, bukan hanya
    berkutat dengan penciptanya terus-menerus. Ada kaitan antara dunia pemikiran,
    perasaan dan pengalaman Laras dengan isi ciptaannya. Sebagai misal dalam puisi
    Lebaran, terdapat makna yang dalam dan personal: ”malam kita membisikkan sayup
    sayap malaikat yang enggan pulang dari sisa embun di wajah bumi./tapi kita lupa, ibu
    memasak sepanci kenangan tentang/lebaran yang dikunci tubuh pagi./kau masih di
    situ, kan?/membawa sajadah yang lesap dipagut waktu, menjadi/manusia pertama
    yang memakan ketupat berisi rindu”.

    Lebaran serupa koin yang mempunyai dua sisi: suka dan duka. Banyak orang
    memaknainya sebagai suka, tapi banyak pula yang yang menghadapi lebaran dengan
    duka. Melalui puisi, Laras mengambil jalan lain. Ia mengkristalkan peristiwa di pagi
    hari saat lebaran tiba. Menggunakan kelima indera dalam tubunya, ia tulis kata demi
    kata. Kita sah memisahkan Laras dengan puisinya, tulisan dengan penulisnya.
    Lebaran dalam puisi ini menjadi bukan hanya milik Laras, tapi milik kita yang bisa
    menghadapi situasi paradoks di hari lebaran. Puisi Lebaran menyatukan horizon kita,
    menyusun kembali puzzle hari itu, hari yang penuh bahagia, juga luka.

    Laras memulainya dengan malam lebaran. Membisikkan sayup sayap malaikat yang
    enggan pulang dari sisa embun di wajah bumi, tulisnya. Ia merasakan kesucian saat
    malam lebaran, kesucian yang kuat, membuat para malaikat enggan beranjak dari
    bumi menuju langit. Lalu ia menyambung dengan pagi: lebaran yang dikunci tubuh
    pagi. Malam dan pagi lebaran terasa begitu cepat berlalu, padahal kita sedang
    menikmatinya. Hanya saja, waktu seolah bergegas meninggalkan lebaran dan kita,
    tanpa alasan yang bisa dimengerti. Kita pun tak tahu mengapa.

    Sebuah pertanyaan menutup puisi Lebaran. Kau masih di situ, kan? Dan kalimat
    pamungkas: manusia pertama yang memakan ketupat berisi rindu. Lebaran yang
    bergegas akan mengingatkan kita pada hari-hari Ramadan yang syahdu. Waktu
    panjang Ramadan yang terasa begitu pendek diberhentikan oleh Lebaran, satu hari
    singkat dengan waktu yang bergegas pergi meninggalkan kita.


    Senandika Dalam Kata

    Seorang filsuf Jerman abad ke-19 bernama Friedrich Nietzche pernah menyatakan,
    setiap penyair (penulis) tidak pernah merasa puas dengan realitas. Ia berusaha
    mengubah realitas, menjadikannya lebih tertahankan, lebih bisa diterima, dan lebih
    memuaskan baginya. Memperlihatkan kepada para pembaca kita bahwa ada sesuatu
    yang salah dalam realitas dan dengan menulis. Secara tidak langsung, penulis ikut
    terlibat membuat dunia ini menjadi tempat lebih baik dan lebih layak. Laras mencoba
    melakukan itu: “jakarta membaca pagi yang tergelincir di samping
    makam/ibundanya./dia kehilangan satu-dua ribu kaki-kaki yang biasa/menjejaknya,
    setiap fajar bertandang, setiap bulan/menggenang./dia menunggunya pulang sekarang.”
    (Senandika Jakarta)

    Senandika atau solilokui ialah dialog penulisnya sendiri, wacana seorang tokoh dalam
    karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk
    mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut,
    atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Laras
    melakukan monolog puisi atau senandika dalam setiap puisinya. Dalam Senandika
    Jakarta, ia berkisah soal Jakarta yang pagi dan nasib hidup manusia. Puisi
    memberinya ruang untuk berekspresi. Laras melihat Jakarta bukan hanya sebagai
    harapan, ada kekecewaan di dalamnya dna kesia-siaan yang mungkin terjadi kapan
    saja.

    Begitulah senandika Laras terbentuk dalam puisi. Monolog dirinya sendiri,
    pemaknaan atas apa yang terjadi di dunia dengan pikiran dan perasaannya. Monolog
    puisi yang dituliskan menjadi ekspresi murni yang bisa dipelajari siapa saja, bahkan
    bisa memberi pelajaran dan menciptakan ruang bagi monolog puisi milik orang lain.
    Monolog yang tak hanya berisi kegelisahan, tapi juga kepekaan perasaan dan
    pemikiran yang matang. Monolog yang membentuk irama kehidupan. Irama yang
    berbeda dalam setiap kata dan peristiwa.

    Puisi ialah medium untuk memperjuangkan sesuatu. Setiap penulis bahkan bisa
    melawan ketidakadilan dan kedzaliman dengan menuangkan pikiran dan perasaan
    dalam tulisannya. Laras, dengan sangat produktif, telah berusaha melakukannya.[]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Monolog Puisi untuk kumpulan buku puisi “Solilokui” karya Laras Sekar Seruni: Rasa dan Kata yang Mencipta Irama Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top