• Info Terkini

    Monday, March 11, 2019

    Yang Tersisa di Milad FAM ke-7


    Oleh: Lihar Amin

    Maspati merupakan kampoeng kecil nan mungil ditengah Kota Surabaya yang dikelilingi gedung mewah bak menara. Lingkungannya yang masih asri dan banyak bangunan tua yang terjaga dengan baik, menjadikan Kampoeng Lawas Maspati sebagai salah satu wisata edukasi sejarah di Kota Surabaya. Letaknya yang tidak jauh dari Stasiun Pasar Turi , Kampung Ilmu, dan Tugu Pahlawan, maka secara otomatis Maspati menjadi icon Kota Surabaya karena keunikan yang didalamnya. Pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang, Maspati menjadi benteng pertahanan Belanda dan banyak terdapat rumah tua. Ada SD Ongko Loro (sekolah desa pada jaman penjajan Belanda), Omah Tua yang dibangun pada tahun 1907, dan masih banyak lagi yang bisa membuktikan bahwa daerah tersebut memang menjadi saksi pertempuran Indonesia untuk mengusir penajajah dari Tanah Air. Secara umum, Maspati berada di Kecamatan Bubutan dan Kelurahan Bubutan.

    Dulu, Maspati sama sekali tidak ada yang tahu. Bahkan bisa dibilang sama seperti daerah lainnya yang kumuh, sampah berserakan dimana-mana, dan segudang permasalahan lainnya. Sejak tahun 2013, Maspati terpilih secara berturut-turut menjadi kampung terbersih dan merupakan program Walikota Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, MT. Berawal dari sinilah Kampoeng Lawas Maspati dikenal dan bahkan sering menerima kunjungan Tokoh Dunia yang kebetulan mampir atau punya agenda di Surabaya.

    Di tempat yang sejuk nan asri inilah, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia menyelenggarakan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-7, sejak berdiri pada tanggal 02 Maret 2012. FAM Indonesia adalah salah satu komunitas kepenulisan nasional yang berkantor pusat di Pare, Kediri, Jawa Timur, dan sudah mempunyai cabang di berbagai daerah. Salah satunya FAM Surabaya, yang diamanahkan menjadi tuan rumah. Dengan persiapan yang mendadak, singkat, cepat, dan tepat, teman-teman FAM Surabaya segera menyusun dan merancang acara dengan baik. Pertemuan demi pertemuan terus kami dilakukan, guna mencari solusi agar pelaksanaan acara bisa berjalan dengan aman.

    Karena FAM mempunyai banyak cabang, maka yang datang juga berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Pulau Sumatera (Padang dan Medan) hingga Nusa Tenggara Barat (Lombok), serta berbagai kota di Jawa Timur (Surabaya, Gresik, dan Kediri). Melihat antusias teman-teman yang datang, FAM Surabaya semakin semangat, seolah tak mengenal lelah. Sebelum puncak acara, teman-teman mulai berdatangan dan langsung ke penginapan yang tidak kalah asri dengan Kampoeng Lawas Maspati. Dari situ, satu sama lain mulai berkenalan, bercengkrama, hingga terjalin keakraban diantara sesama insan penulis.

    Lalu, pada tanggal 02 malam, ada syukuran (potong tumpeng) sebagai wujud syukur kapada Tuhan, karena di usia yang ke-7 FAM Indonesia terus berkarya kepada bangsa. Diawali kata sambutan oleh Ketua Umum FAM Indonesia, Muhammad Subhan, Sos, I, lalu dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng, dan ditutup dengan do’a oleh Ustad Agus Salim (salah satu penulis dan inspirator FAM Indonesia), serta akhiri dengan makan bersama.

    Sebelum puncak acara pada tanggal 3, seluruh peserta berkesempatan untuk jalan-jalan untuk mengetahui apa saja yang ada di Kampoeng Lawas Maspati. Dipandu oleh pihak Maspati, teman-teman mendapat pengetahuan baru dan sempat berfoto diberbagai tempat di kampeong itu.

    Tepat pukul 08:30 WIB, dimulai acara inti. Yaitu diskusi isnpirasi seputar kegiatan literasi. Yang tidak kalah menarik, ada Bapak Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Jawa Timur, Dr. Abdul Hamid, MP yang memberikan isnpirasi tentang kepenulisan.  

    *) Lihar Amin, anggota FAM Surabaya yang menjadi panitia acara milad ke-7 FAM Indonesia.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Yang Tersisa di Milad FAM ke-7 Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top