• Info Terkini

    Monday, April 8, 2019

    Melestarikan Bahasa Nasional


    Oleh: Agus Nurjaman

    Bahasa sebagai sarana komunikasi memiliki fungsi utama penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupan. Perubahan ini dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Terutama pada penggunaan fungsi komunikasi pada bahasa asing Sebagai contoh masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran. Jadi bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya dengan satu bahasa melainkan banyak bahasa.

    Akan tetapi penerapan bahasa nasional dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung akan mempertebal karakter nasionalisme. Tidak bisa dipungkiri pemakaian bahasa nasional yang baik dan benar memang sudah mulai berkurang dikalangan pelajar karena tergeser oleh pemakaian bahasa prokem, bahasa gaul dan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri.  Oleh karenanya keadaan ini tidak boleh dibiarkan karena bisa mengurangi rasa nasionalisme. Teguran harus dilakukan jika mendengar siswa berbicra dalam bahasa yang mengarah ke bahasa non-formal. Para guru harus menggunakana bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga bisa memberi teladan untuk para peserta didiknya. Penggunaan bahasa Indonesia juga sudah semakin merosot karena harus bersaing dengan bahasa asing lainnya seperti bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Korea.

    Banyak orang yang beranggapan Bahasa Indonesia itu lebih cocok digunakan pada saat sedang mengikuti acara-acara yang formal seperti saat berpidato dan menyampaikan ceramah. Bahkan bagi anak muda di masa kini, jika sudah pandai menguasai bahasa asing lainnya, maka akan dianggap sebagai anak muda yang gaul dan kekinian. Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Jika bahasa Indonesia saja kurang di banggakan oleh rakyatnya, maka bagaimana bangsa Indonesia akan mengembangkan kekayaan lain yang dimilikinya. Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir tergeser dengan jenis bahasa tersebut diatas.

     Bagi mereka bahasa Indonesia itu terlalu formal untuk dipakai sehari-hari, kurang gaul dan kekinian. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat melestarikan bahasa Indonesia di negeri tercinta ini. Jangan takut menjadi anak muda yang tidak gaul karena menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, melainkan jadilah sosok anak muda yang bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi anak muda lainnya untuk mulai mencintai bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa nasional dengan baik itu berarti melestarikan bahasa Nasional sebagai bahasa pemersatu bangsa.

    *)Agus Nurjaman,  lahir di Bandung, 23 Juni 1969. Memulai pendidikan dari SD Negeri Bojong Koneng 1983, SMP Negeri 1 Soreang 1986, Sekolah Tehnik Menengah Negeri 2 (STM) Listrik Instalasi, Buahbatu Bandung, lulus 1989. Melanjutkan perkuliahan ke STKIP Bale Bandung jurusan Bahasa Inggris, lulus 2002. Pada 2008 lolos CPNS, ditempakan di SMP Negeri 1 Pasir jambu sampai sekarang. Pada 2014 menjadi salahsatu tim pegiat literasi di Kabupaten Bandung dalam wadah LRC-KB. Beberapa prestasi di bidang menulis. Terpilih 50 penulis essay tingkatNasional 2017. Menjadi juara 1 Lomba Menulis Lingkungan Hidup tingkat Kabupaten Bandung  2017. Sering menulis artikel di PR dan Hibar Sabilulungan

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Melestarikan Bahasa Nasional Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top