• Info Terkini

    Monday, August 19, 2019

    Belajar Menulis dari Tiger Woods


    Oleh: Fadhil Sofian Hadi

    Menulis adalah seni. Menulis adalah kreasi.
    Jika anda terus berlatih mengolah seni,
    Tetap komitmen mengasah kreasi, pada hakekatnya,
    Anda sedang berada dipuncak literasi yang sesungguhnya
      (Fadhil Al-Hadi)


    Belajar menulis dari seorang penulis itu biasa, namun belajar menulis dari seorang pe-golf itu yang luar biasa. Pertanyaannya, sejak kapan tukang golf menjadi penulis? Semoga ulasan artikel sederhana ini dapat memberi sumbangsih motivasi untuk terus berkreasi. 

    Siapa yang tidak kenal dengan Tiger Woods, sang juara dunia olah raga golf. Setiap dia memenangkan pertandingan, maka pundi-pundi uang diterima berjumlah jutaan bahkan milyaran dolar. Namun, tahukah kita dibalik kesuksesan sang raja golf ini, ternyata dia melakukan latihan memukul bola golf sebanyak seribu kali dalam sehari. Fantastis! Seribu kali dalam sehari, dapat dibayangkan sungguh tekun dan semangat dia melakoninya.

    Bagi sebagian orang, mungkin hal itu tidak masuk akal. Tetapi ini adalah kenyataan yang dilakukan oleh seorang Tiger Woods, hingga dia mampu menjadi juara dunia berkali-kali pada cabang olahraga yang digelutinya. Ketekunan dan latihan yang terus menerus merupakan dua kunci sukses sang raja golf ini.
      
    Pembaca yang budiman.

    Semangat Tiger Woods atau inspirasi yang datang dari seorang pemenang dalam kejuaraan apapun, perlu digugu dan ditiru. Perlu ditumbuhkan dan dipupuk baik-baik agar tidak lawas, lantas lenyap tak berbekas. Yang perlu dicatat adalah, hal apapun yang di kerjakan, tidak akan membuahkan hasil tanpa usaha yang optimal. Tak akan ada sukses tanpa jerih payah maksimal. Oleh karenanya, isiqomah dan tajribah dalam hal apapun itu mutlak di prioritaskan. Seperti ungkapan seorang penulis Akbar Zainudin; ‘Man Jadda Wajada’ barang siapa bersungguh-sungguh maka dapatlah ia.

    Pun, tidak jauh beda dengan keterampilan menulis, diperlukan ketekunan dan latihan yang sustainable, latihan menulis yang berkelanjutan. Latihan yang bersifat on going process. Proses yang terus menerus tanpa kenal menyerah. Proses, untuk mendobrak mood yang sering mem-block dinding kritis para penulis. Karena, dari proses latihan itulah, keterampilan menulis akan mampu melahirkan karya-karya yang bisa jadi akan lebih terkenal dan lebih fenomenal bahkan melebihi kepopuleran sang juara golf tadi. 
      
    Semangat lain yang perlu ditiru adalah, sosok pimpinan Jawa Post, Dahlan Iskan. Pada suatu kesempatan, selepas dia memberikan pelatihan jurnalistik disalah satu institusi di Jawa Timur. Waktu itu Dahlan Iskan masih berprofesi sebagai wartawan majalah Tempo. Lantas, oleh salah seorang peserta pelatihan, Dahlan Iskan ditanya;


     “Maaf pak, saya mau bertanya, dalam sehari berapa lembar sampean menulis?” Tanya peserta tersebut. 

     “Saya menulis, kurang lebih dua puluh lembar sehari” balas Dahlan Iskan enteng.
    Pembaca yang budiman.

    Super sekali.. Bukankah ini jawaban yang bernas. Bisa dibayangkan seorang Dahlan Iskan harus menulis sebanyak dua puluh lembar per-hari, untuk disetorkan kepada redaksi Tempo. Terlepas, apakah tulisan tersebut dimuat atau tidak. Sebab yang terpenting adalah, Dahlan Iskan dan para wartawan Tempo dilatih untuk menulis dan menulis. Jika pembaca tidak keberatan, silakan baca tulisan Dahlan Iskan di Jawa Post. Tulisan mengalir dan renyah serta mudah dicerna. Itulah buah dari ketekunan dan latihan. Hingga saat ini, Dahlan Iskan menjadi pimpinan Jawa Post yang saat ini mercusuarnya hampir diseluruh penjuru nusantara. 

    Baiklah..

    Kita sudah mendapatkan bocoran motivasi dari dua orang yang berbeda profesi. Rasanya, akan lebih lengkap jika saya akan mengutip semangat dari seorang penulis dan ulama Islam yang namanya dikenal hingga seantero dunia. Dan, barangkali apa yang dilakuakan oleh raja golf dan Dahlan Iskan tidak ada apa-apanya, apabila dibandingkan dengan ketekunan sosok Ibnu Manzhur (Muhammad bin Mukram bin Ahmad bin Habqah Al-Anshari Al-Afriqi (w.711). Beliau merupakan ulama yang telah menulis kurang lebih 500 jilid buku. Magnum opus beliau berjudul ‘Lisan al-‘Arab’. 

    Buku yang memuat 80. 000 kosa kata dan tercatat kurang lebih dalam 20 jilid buku. Ibnu Manzhur, dikenal semenjak kecil telah tekun melatih diri untuk menulis. Sebab ketekunan itulah beliau menjadi tersohor, karyanya meliputi tema sejarah, bahasa, sastra dan lain sebagainya. Tentu hal ini sulit dibayangkan, mengingat dahulu di zamannya tinta dan pena saja sulit untuk dicari. Para pendahulu Islam dimasanya hidup dalam suasana keterbatasan namun, bukan alasan bagi mereka untuk tidak berdaya dan berkarya. Sebaliknya, keterbatasan itulah yang menekan pelatuk tekad dan azam mereka untuk giat berusaha. 

    Sungguh luar biasa. Sepertinya, kita tidak butuh alasan lagi untuk berbuat dan melahirkan karya. Tidak ada waktu lagi untuk menunda. Bukan saatnya lagi berkeluh-kesah, mulailah untuk berbenah. 

    Akhirnya, pelajaran dari sang raja golf dengan ketekunan berlatih memukul bola seribu kali sehari. Kemudian, latihan tanpa henti oleh pimpinan Jawa Post dengan menulis dua pulu lembar per-hari. Serta, cermin ketekunan menulis dari seorang ulama terdahulu dengan karangannya hingga mencapai 500 jilid, semoga memacu adrenalin dan semangat kita untuk melahirkan karya. 

     The last but not least, ketekunan dan latihan secara continue mutlak dibutuhkan sebagai upaya melatih diri untuk menjadi seorang penulis handal. Karena dengan menulis kita telah mewariskan peradaban, khususnya peradaban Islam. Terakhir, penulis ingin mengutib perkataan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi; “Penulis yang baik adalah penulis yang bisa menipu pembacanya. Maksudanya, menipu dalam hal kebaikan”.
      
    Wallahua ‘alam bisshowab.


    Fadhil Sofian Hadi. Asli Taliwang, NTB. Penulis buku “Sebait Do’a untuk Sang Guru” dan buku-buku antologi yang dieterbitkan FAM Indonesia.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Belajar Menulis dari Tiger Woods Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top