Skip to main content

Belajar Ditolak dari J.K. Rowling


Menjadi seorang penulis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membutuhkan sebuah proses agar bisa menjadi penulis yang andal. Berbagai macam hal dilalui dalam menjajaki sebuah proses, tawa dan tangis melebur jadi satu. Akan tetapi, usaha selalu berbuah hasil, bukan?

Nah, bicara tentang usaha J.K. Rowling seharusnya tidak bisa terkenal seperti sekarang tanpa usaha, bukan? Perjalanannya menulis kisah Harry Potter dimulai ketika kereta yang ia tumpangi mengalami keterlambatan keberangkatan dari Manchester menuju ke stasiun King’s Cross di London pada tahun 1990. “Harry Potter” sebuah nama yang terkenal dan tidak membosankan di telinga kita. Tokoh dengan kacamata bundarnya telah membius para penggemarnya.

Selama beberapa tahun kemudian J.K. Rowling menulis kisah “Harry Potter” dalam ribuan lembar kertas. Menulis dengan mesin tik lama dan mengulangi ketikannya agar bisa disebarkan kepada beberapa penerbit, tidak menurunkan tekad kuatnya dalam membentuk karakter “Harry Potter”. Waktu itu adalah masa-masa sulit baginya ketika kembali di Edinburgh, Inggris dengan berprofesi sebagai pengajar dan selalu konsisten menulis setiap saat. Sehingga hidupnya pun bergantung dengan uang tunjangan Negara.

Setelah naskah pertama serial “Harry Potter” lengkap, ia memulai mengirimkan 3 bab pertamanya ke beberapa penerbit. Naskah dengan seribu perjuangan yang ia selesaikan tidaklah seketika meledak menjadi terkenal di pasaran seperti sekarang. Semua penerbit yang telah ia kontak tidak ada satu pun yang menerima naskahnya. Naskah dari J. K. Rowling ditolak oleh beberapa penerbit. Apakah J.K. Rowling berputus asa? Tidak.

Ia memikirkan alasan dan solusi atas penolakan tersebut. Berbagai penolakan tersebut dikarenakan ia mengirimkan naskahnya dengan nama aslinya Joanne Rowling. Pandangan penerbit dan kalangan perbukuan masih meremehkan atas nama penulis wanita. Sehingga ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi J.K. Rowling.
Dengan nama samaran tersebut, ia mengirimkan naskahnya kembali. Ditolak penerbit lagi, ia kirimkan lagi. Ditolak hingga 8 penerbit tidak membuat J.K. Rowling berhenti untuk mencoba. Beruntungnya, salah satu di antaranya bersedia membantu J.K. Rowling untuk mengantarkan naskahnya ke penerbit Bloomsbury, yaitu penerbit ke Sembilan. Sehingga seri pertamanya berhasil menjadi best seller pada satu bulan setelah publikasi.


Ditolak bukan berarti akhir dari semua. Belajar dari pengalaman J.K. Rowling, terus mencoba tanpa berputus asa bisa menjadikan kita mencapai tujuan yang diinginkan. 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…