• Info Terkini

    Sunday, March 29, 2020

    Belajar Ditolak dari J.K. Rowling


    Menjadi seorang penulis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membutuhkan sebuah proses agar bisa menjadi penulis yang andal. Berbagai macam hal dilalui dalam menjajaki sebuah proses, tawa dan tangis melebur jadi satu. Akan tetapi, usaha selalu berbuah hasil, bukan?

    Nah, bicara tentang usaha J.K. Rowling seharusnya tidak bisa terkenal seperti sekarang tanpa usaha, bukan? Perjalanannya menulis kisah Harry Potter dimulai ketika kereta yang ia tumpangi mengalami keterlambatan keberangkatan dari Manchester menuju ke stasiun King’s Cross di London pada tahun 1990. “Harry Potter” sebuah nama yang terkenal dan tidak membosankan di telinga kita. Tokoh dengan kacamata bundarnya telah membius para penggemarnya.

    Selama beberapa tahun kemudian J.K. Rowling menulis kisah “Harry Potter” dalam ribuan lembar kertas. Menulis dengan mesin tik lama dan mengulangi ketikannya agar bisa disebarkan kepada beberapa penerbit, tidak menurunkan tekad kuatnya dalam membentuk karakter “Harry Potter”. Waktu itu adalah masa-masa sulit baginya ketika kembali di Edinburgh, Inggris dengan berprofesi sebagai pengajar dan selalu konsisten menulis setiap saat. Sehingga hidupnya pun bergantung dengan uang tunjangan Negara.

    Setelah naskah pertama serial “Harry Potter” lengkap, ia memulai mengirimkan 3 bab pertamanya ke beberapa penerbit. Naskah dengan seribu perjuangan yang ia selesaikan tidaklah seketika meledak menjadi terkenal di pasaran seperti sekarang. Semua penerbit yang telah ia kontak tidak ada satu pun yang menerima naskahnya. Naskah dari J. K. Rowling ditolak oleh beberapa penerbit. Apakah J.K. Rowling berputus asa? Tidak.

    Ia memikirkan alasan dan solusi atas penolakan tersebut. Berbagai penolakan tersebut dikarenakan ia mengirimkan naskahnya dengan nama aslinya Joanne Rowling. Pandangan penerbit dan kalangan perbukuan masih meremehkan atas nama penulis wanita. Sehingga ia menyiasati dengan menyamarkan namanya menjadi J.K. Rowling.
    Dengan nama samaran tersebut, ia mengirimkan naskahnya kembali. Ditolak penerbit lagi, ia kirimkan lagi. Ditolak hingga 8 penerbit tidak membuat J.K. Rowling berhenti untuk mencoba. Beruntungnya, salah satu di antaranya bersedia membantu J.K. Rowling untuk mengantarkan naskahnya ke penerbit Bloomsbury, yaitu penerbit ke Sembilan. Sehingga seri pertamanya berhasil menjadi best seller pada satu bulan setelah publikasi.


    Ditolak bukan berarti akhir dari semua. Belajar dari pengalaman J.K. Rowling, terus mencoba tanpa berputus asa bisa menjadikan kita mencapai tujuan yang diinginkan. 😊

    Sumber foto: Google

    (TIM PENULIS FAM)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Belajar Ditolak dari J.K. Rowling Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top