Skip to main content

Catatan Hitam Menuju Baitullah


Judul: Catatan Hitam Menuju Baitullah
Penulis: Kusyoto
Kategori: Novel Inspiratif
ISBN: 978-602-5935-57-2
Terbit: Maret 2020
Tebal: viii + 146 hal: 14 x 21 cm
Harga: Rp65.000,-
Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher
(Harga belum termasuk Ongkir)

                      


Ummu Salamah, perawat pelaksana di sebuah Puskesmas/Pkm, setelah banyak cobaan dan rintangan yang hampir merenggut nyawa akibat perbuatan syirik, dengki mitra kerja bahkan sesama teman sejawat, ibu dari dua orang anak ini mendapat kesempatan sepesial berkunjung ke tanah harapan bagi milyaran umat muslimin di seluruh dunia, Baitullah. Tanah haram, tanah suci, Makkah Al Mukarromah sebagai perawat pendamping calon jamaah haji/pelayan tamu-tamu Allah yang bermasalah dengan kesehatannya.


Kisah pilu sarat hikmah menyertai perjalanan Ummu Salamah sebelum panggilan suci dari Allah itu tiba. Fitnah keji, konspirasi busuk, bahkan rencana-rencana terselubung orang-orang di sekelilingnya yang mengingkinkan dia terbunuh dihadapannya dengan senjata pamungkas dan mulia, kesabaran dan keikhlasan.

Simaklah sunguhan inspiratif penuh kasih, cinta dan keikhlasan dari seorang perawat pendamping akan kebesaran, keagungan dan keesaan Allah.
“Segala sesuatu harus Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Insyaallah mudah dan barakah. Kun fayakun.”



*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.

 
[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Centre: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…