Skip to main content

Terus Menulis untuk Jadi Penulis


Wajar, jika namanya pemula masih banyak kesalahan dalam menulis. Namun, jika kita masih selalu terjebak dalam kesalahan yang sama, berarti kita tidak pernah belajar dari kesalahan. Dari mana kita bisa tahu dengan kesalahan menulis? Tentu karena sering menulis. Jadi motivasi ke dua bagi penulis pemula adalah dengan tetap dan terus menulis.

Seberapa banyak penolakkan yang dialami naskah kita ataupun tulisan-tulisan kita. Kuncinya tetap terus menulis. Dengan terus menulis, kita akan selalu mengasah skill dan kemampuan kita dalam berbahasa, dengan menulis kita selalu menjaga pikiran positif kita terhadap hamparan kata. Jangan terlalu dipikirkan naskah kita jelek, tapi pikirkan kenapa tulisan kita tidak pernah selesai karena kita berhenti untuk menulis.

Banyak penulis pemula tumbang dan menghentikan kegiatan menulisnya karena hasil tulisannya belum diakui oleh orang-orang. Tapi, bagi yang mampu melewati fase ini, dijamin, sedikit demi sedikit, jalan menjadi penulis itu akan semakin terang. Bukankah sudah ada pepatah, lancar kaji karena sering diulang. Makanya, semakin kita terus menulis, kita akan semakin lancar dalam menjalani proses menulis.

Tulis saja terus, tulis.. tulis.. dan tulis… karena penulis pun awal katanya dari tulis, orang yang melakukan kegiatan menulis. Jadi mau disukai orang atau tidak, mau dibaca orang atau tidak, yang penting tetap dan terus menulis. Suatu saat, akan ada masanya di mana kamu benar-benar bangga dengan hasil jerih payah dirimu. Saat proses menjadi seorang penulis.

Jadi motivasi kedua adalah tetap terus menulis, apa pun hasilnya selalu menulis. Bagaimana kalau kita bingung dengan apa yang kita tulis? Kita masih kurang ilmu untuk menulis? Di sinilah kita butuh proses membaca. Semakin banyak baca, semakin banyak ilmu yang akan bisa dituliskan. Semakin suka kita membaca, semakin kita menikmati proses menulisnya. Karena antara membaca dengan menulis, dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Macam sirup dengan air. Apalagi diminum sambil menulis atau membaca. 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…