Skip to main content

Inspirasi Mimpi dari F. W. Woolworth


“Dreams never hurt anybody if he keeps working right behind the dream to make as much of it come real as he can.”
(Mimpi tidak pernah menyakiti siapa pun jika dia terus bekerja tepat di belakang mimpinya untuk mewujudkannya semaksimal mungkin).

Seperti halnya kalimat tersebut, sebagai seorang penulis haruslah mempunyai mimpi (impian). Sesuatu akan terwujud dari beberapa mimpi yang bahkan tidak terduga. Sebagian besar orang menyakini bahwa mimpi-mimpi mereka akan terwujud dengan usaha yang sesuai dan modal yang memadai. Namun, sebagiannya menganggap bahwa mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak ada kaitannya dengan masa depan atau cita-cita.
Menulis tentang fiksi sama halnya dengan menulis sesuatu yang khayal. Mimpi pun sama. Khayalan-khayalan yang terangkai indah tersebut akan mewujudkan sebuah mimpian di masa depan yang lebih baik dan terperinci. Membawa seorang penulis dan pembaca pada harapan yang bisa saja terwujud secara nyata pada kehidupannya, jika didukung dengan skill serta usaha.

Seorang pengusaha juga berawal dari mimpi. Bercita-cita menjadikan usahanya sukses mestilah dengan usaha yang dilakukan secara baik, benar dan tanpa menyerah dengan motivasi sebuah mimpi. Berjalan dengan arah yang pasti tanpa mengabaikan untung dan rugi yang ada.

Penulis dapat menorehkan karyanya dengan keinginan atau mimpi agar karyanya dapat dibaca oleh semua orang. Meskipun tidak sedikit coretan yang terbuang, peluh yang menetes setiap harinya, waktu yang berjalan beriring mendampingi dan biaya yang lebih dari cukup untuk memuat karya tulisannya di media cetak atau membukukannya.

Tidak lagi memikirkan tinta pena yang habis, tetapi memikirkan battery yang low. Mata yang harus terpincing setiap malam dan segelas susu yang menemani. Tidak ketinggalan beberapa camilan untuk sekadar mengutuhkan kekuatan mata yang harus tetap terjaga.

Mimpi, yah.
Mimpi itulah yang akan mengukir sebuah karya penuh makna dengan segala rasa dan asa yang ada. Mulai menitik, membentuk garis dan kata hingga kalimat penuh separagraf dua bahkan berlembar-lembar membentuk halaman yang penuh akan nilai-nilai kemanusiaan yang menjiwai setiap pembaca sampai pada satu buku cerita.

Tetaplah bermimpi!
Jadilah penulis yang penuh energi dari mimpi-mimpi pengubah dunia baca, agar terpenuhi kehausan para pembaca akan arti setiap tulisan yang ada.

Sumber foto: Google

(Tim Penulis FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…