Skip to main content

Profil Penulis Bahasa Indonesia Keilmuan


Sugiri, M. Pd. kelahiran Samarinda pada 27 Juli 1969. Ia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri 21 Palaran dan lulus tahun 1982. Setelah itu, masuk ke SLTP Negeri Palaran dan lulus pada tahun 1985. Pada tahun itu juga melanjutkan pendidikannya di SPG Negeri Samarinda jurusan guru SD (spesialisasi IPA dan Matematika) dan lulus pada tahun 1988. Satu tahun kemudian (1989) di kota yang sama, melanjutkan pendidikan D2 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Negeri Mulawarman (Unmul) dan lulus tahun 1991. Ia menyelesaikan D3 dengan jurusan yang sama dan lulus pada tahun 1993. Tahun 1997 melanjutkan pendidikan sarjana (S1) dan lulus tahun 2000. Tahun 2002.
      Ia mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM), mengikuti program pascasarjana (S2) jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia melalui beasiswa ADB (Asian Development Bank) Jakarta. Ia menunaikan tugas belajar dan selesai pada tahun 2004.

   Pengalaman berkarier secara-berturut turut yakni: sempat menjadi asisten dosen mata kuliah psikolinguistik di Universitas Negeri Mulawarman Samarinda sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2000; Pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia dan Micro teaching di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta sejak tahun 2008 sampai sekarang; Pernah menulis di jurnal Dikdaktika Universitas Mulawarman Samarinda tahun 2008 dan beberapa tulisan  praktik baik (best practice) tahun 2016 dan 2019; Pernah menjabat sebagai kepala di beberapa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kutai Timur sejak akhir 2006  sampai dengan awal 2018; Awal tahun 2018 sebagai pengawas Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Kutai Timur.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…