Skip to main content

Profil Penulis Buku Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah


Muhammad Yasin, Lahir di Kabupaten Bojonegoro Tanggal 24 Oktober 1978, di mana Kabupaten tersebut berada di wilayah Jawa Timur namun keberadaannya berbatasan dengan Jawa Tengah, Kabupaten yang ada api abadi yaitu kayangan api di Kecamatan Ngasem Bojonegoro, anak ke lima dari tujuh saudara dari ayah bernama Karsidin dan ibu Karsi (almarhumah).
    
  Pada tahun 2003 hijrah (merantau) ke Sangatta dan  mulai membuka usaha baru di bidang konveksi/garment di kota Sangatta Kabupaten Kutai Timur.
      
Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hilal Bungkal Balen Bojonegoro, MTs Islamiyah Balen Bojonegoro, MA Al Mutamakin Sukosewu Bojonegoro. Pada tahun 2011 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Sekolah Tinggi Islam Sangatta  (STAIS) Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), lulus pada Tahun 2015, Tahun 2016 lanjut kuliah di IAIN Samarinda dan lulus pada tahun 2018.

     Motto hidup penulis: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, dan ”Don’t put until tomorrow what you can do today (Jangan menunda pekerjaan sampai besok kalau bisa dikerjakan hari ini).,"
Pengalaman di Organisasi penulis, Sekretaris Dekopinda Tahun 2008-2014, Ketua Koperasi Sengata Jaya Abdi Tahun 2007-2011, Direktur CV. Miftah Collection Tahun 2006-sampai sekarang, Ketua Paguyuban Bojonegoro Tahun 2010 sampai sekarang, Ketua Agen Bisnis Perumahan Grand Sangatta sekaligus Pengelola Perumahan Grand Sangatta Tahun 2012 sampai sekarang, Ketua koperasi Cipta Graha Investama Tahun 2015 sampai Sekarang, Wakil Ketua Asosiasi Depot air Minum Sangatta Tahun 2015 sampai 2020, Bendahara LDNU Kabupaten Kutai Timur Tahun 2015-2020, Ketua Asosiasi Penjahit Sangatta Tahun 2015 sampai sekarang, wakil Bendaharan Nahdlatul Ulama Periode 2016-2021, Ketua Lazisnu  periode 2019- 2021.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…