Skip to main content

Profil Penulis Novel "Peta-Peta Cinta" terbitan FAM Publishing


Sri Sembadra Alya, lahir di Tulungagung, 1 Juli. Tinggal di Dusun Jaranguyang, Desa Batangsaren, Rt. 02, Rw. 06, No. 19, kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Mempelajari tehnik menulis lewat majalah remaja Anita Cemerlang dan mengembangkannya secara otodidak. Penulis Cerkak di Majalah Jaya Baya tahun 2000-an. Juara 3 menulis cerpen di Festival Bonorowo Menulis tahun 2015 dengan tema mengembangkan kearifan seni dan budaya lokal, Juara 2 Nasional menulis tentang Penyembuhan penyakit yang diadakan oleh Penerbit Sinar Gamedia. Aktif menulis cerpen di Majalah Medika Bakti di Tulungagung. 

 Menghasilkan beberapa karya antara lain :
1. Buku Antologi Penyakit Bukanlah Penghalang dengan judul Aku sakit Bukan Penyakit, penerbit Sinar Gamedia tahun 2016.


2. Buku Antologi Menjadi Generasi Pemutus dengan Judul Buah Cinta Terakhir Penerbit Anugerah Utama Raharja  tahun 2016.

3. Buku Antalogi Padamu Aku Bercerita dengan judul Surga Ditelapak Kaki Ibu, penerbit FAM Publising tahun 2016.

4. Buku Ensiklopedi Penulis Indonesia, penerbit FAM Publising tahun 2017

5. Buku Short stories from around the word Selendeng Mayang dengan judul Meraih Mimpi di negeri Formoza, (satu-satunya naskah terpilih yang  di translate dengan  bahasa Mandarin di majalah Akbar Singapura, selain karya ibu Presiden ASEAN Women Writters Association) Penerbit AWWA Publising, tahun 2017.

6. Buku kumpulan puisi Sketsa Wajah Ibu, Penerbit AWWA (ASEAN Women Writers Association) Tahun 2017.

7. Buku Antologi pengalaman perjalanan para penulis Indonesia dan Thailand Personal Recout of Thaindo, Penerbit Pustaka Senja tahun 2018.

8. Dan beberapa Cerpen Fiksi di Majalah Medika Bakti antara Lain :
- Impian yang Kandas
- Seberkas Cahaya Buat Emak
- Santri Jalanan.


9. Juga menulis Cerpen di situs Internet Plukme.Com antara lain :
-  Hati yang Perawan.
-  Pertemuan di Cafe Barata
-  Aku Bukan Pelakor.
- Jodoh yang tertunda.
- Surat yang tertukar.


Penulis bisa dihubungi lewat email Safiraalya65@gmail.com. (FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…