Skip to main content

Semangat Menulis ala Stephenie Meyer


Siapa yang tak kenal Stephenie Meyer? Nama ini tentunya sudah familiar kan? Penulis yang memiliki nama panjang Stephenie Morgan Meyer adalah seorang penulis novel asal Amerika Serikat. Dialah penulis yang ada dibalik karya-karya sebesar dan sepopuler Twilight, Breaking Down, Eclipse dan New Moon. Dan semua karyanya itu telah diproduksi dalam bentuk layar lebar.
Dari prestasi menulisnya itu, Stephenie Meyer selalu mendapat aliran dana sebab karyanya yang fantastis. Dan tercatat kekayaan dari menulisnya itu, mencapai hingga 125 juta dollar atau sekitar 1,63 Trilyun rupiah.

Stephenie Meyer ini lahir pada tanggal 24 Desember 1973 di Hartford, Connecticut, Amerika. Saat ini usianya 47 tahun. Stephenie Meyer seorang penulis yang sederhana. Ia mengaku menulis draft 'Twilight' sebagai hiburan belaka. Tak disangka karyanya mendapat respon yang luar biasa.

Satu pesannya yang bisa kita adopsi untuk semangat kita, yaitu: “Senja, lagi. Sebuah akhir yang lain. Tak peduli seberapa sempurnanya hari, selalu harus berakhir”. Maksud pesan itu menunjukkan betapa Stephenie Meyer ini sangat asyik dengan kegiatan menulisnya. Seolah sehari menghabiskan waktu 24 jam masih tidak cukup. Sebagai ibu rumah tangga, yang juga diselingi dengan merawat buah hatinya. Stephenie Meyer ini justru banyak mendapat inspirasi di saat sedang melakukan pengasuhan buah hatinya. Itulah sebabnya, aktivitas rumah tangga tak menghalangi hobby menulisnya, kecuali senja saja. Sehingga dia selalu inginkan siang yang panjang untuk terus bisa menulis. Karakter enjoy saat menulis ini, memberikan kesan keteraturan dalam kehidupannya. Stephenie Meyer ini mengganggap menulis sebagai hiburan. Namun ternyata menghasilkan karya yang fantastis. 

Bagaimana pendapat teman-teman tentang rahasia Stephenie Meyer? Semangat menulisnya ternyata sangat sederhana ya? Ia begitu menyukai menulis, sampai berat berpisah dari hobby menulisnya. Hanya malam yang dapat membuatnya meletakkan penanya. Daaan bagaimana dengan kita? Sebagai penulis kita harus bisa mengambil semangatnya yaaaa… Tetap semangat menulis, dan enjoy it, bye…😊

Sumber Foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…