Skip to main content

Serunya Menulis ala Stephen King



Siapa yang tak kenal Stephen King? Penulis yang memiliki nama panjang Stephen Edwin King ini adalah seorang penulis kontemporer Amerika Serikat. Penulis ini banyak melahirkan novel, yang umumnya bergenre horor, fiksi ilmiah, dan fantasi. Penjualannya sangat luar biasa, telah terjual hingga lebih dari 350 juta eksemplar di seluruh dunia. Buku-bukunya yang terkenal adalah yang berjudul: It, The Shining, The Outsider, The Stand, The Institute, Misery, Carrie, Doctor Sleep, Pet Sematary. Semua buku ini, bahkan dibuat filmnya lho…

Stephen King lahir tanggal 21 September 1947. Saat ini usianya menginjak 73 tahun. Ternyata Stephen King ini punya motivasi khusus, yang membuat dia konsisten dalam berkarya. Ini dia motivasinya: “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya.”
Wah, orang hebat, pasti punya kemauan tinggi yach? Coba deh, diresapi tekad  Stephen King di atas.


'Menulis adalah mencipta'. Pencipta tentunya memiliki standar dan prestige. Jika ingin menulis sebuah maha karya, tentunya persiapan dan risetnya maksimal. Harus benar-benar meluangkan waktu untuk riset, dengan membuat outline, dan juga jeli melihat perkembangan. Persiapan ini sangat berguna untuk menghasilkan karya yang jauh dari kesan cacat logika. Sehingga terlihat hampir seperti kehidupan nyata. Dengan begitu, alurnya akan mengalir dan mudah dipahami pembaca.

Keberhasilan seorang penulis yaitu jika pembaca mendapatkan sensasi bahagia dan terhibur. Semakin banyak pembaca yang menyukai karya tulis kita, parameter itulah yang membuat kita terbukti dalam menjawab tantangan. Tantangannya yaitu memberikan karya tulis yang diterima masyarakat, dengan berbagai karakter, berbagai kalangan, dari berbagai negara. Hebat ya…

Sangat ‘daleem’ banget,  motivasi menulis ala Stephen King ini. Seluruh jiwa dan napas hidupnya dibawa serta saat menulis. Dia benar-benar menjiwai. Sebagai penulis, menjiwai sebuah karya tulis, yaitu dengan memposisikan dirinya juga sebagai pembaca. Bahkan dengan menjiwai berbagai karakter pembaca yang berbeda. Termasuk berbagai kondisi stres dari pembaca. Dan tentunya harapan kesuksesan karya tulis kita yaitu bisa menjadi solusi dari jiwa-jiwa pembaca yang sedang menginginkan sebuah hiburan fantasi. Hal ini yang dapat menjadi solusi, dapat mengalihkan stres untuk me- recovery semangat. Percayalah, kekuatan karya tulis dan bacaan yang menghadirkan jiwa, dapat menyentuh hati pembaca dan membangkitkan semangat baru, menatap kehidupan lebih optimis.

Bagaimana pendapat kalian tentang tekad dan kemauan menulis ala Stephen King di atas? Sebagai calon penulis, kita harus bisa mencobanya ya…

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…