Skip to main content

Yuk, Bersahabat dengan 'Tanda Koma'!


Hai temans... Bicara tentang tanda baca jangan dibuat tegang ya. Kita seru-seruan saja. Contohnya membahas 'tanda koma'. 

'Koma' yang dimaksud bukan 'koma' tidak sadar atau kondisi darurat ya. Itu kan istilah medis. He he. 


'Tanda koma' sebagai tanda baca sudah sangat familiar. Di mana ada bacaan pasti di situ ada 'tanda koma'. 

'Tanda koma' digunakan dalam banyak konteks dan bahasa, umumnya memiliki kegunaan sebagai pemotong atau pemisah. Menurut Oxford English Dictionary kata ini berasal dari Bahasa Yunani: komma (κόμμα) yang berarti sesuatu yang dipotong atau klausa pendek.


'Tanda koma' ini bentuknya seperti 'angka sembilan' kecil tanpa lubang. Hitam, masif dan padat, dengan diletakkan di garis dasar teks. 

Jangan salah ya, jika diletakkan di atas nanti jadi 'tanda apostrof'. He he 


Pemakaian 'tanda koma', bisa untuk bermacam-macam, lho. Contohnya :
1. Sebagai pemisah di antara unsur-unsur dalam suatu perincian. Contoh: Saya belanja telur, beras, minyak, dan gula.
2. Untuk memisahkan antara dua kalimat setara. Biasanya didahului oleh kata seperti, tetapi, atau melainkan.
Contoh: Saya akan berangkat, tetapi ada yang tertinggal.

3. Untuk memisahkan anak kalimat yang berada di depan induk kalimat. Contoh: Kalau hari cerah, saya akan datang.
4. Untuk penghubung kalimat ungkapan dengan kalimat inti. Contoh: Oleh karena itu, kita harus waspada.
5. Untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Contoh: O, begitu?
6. Untuk memisahkan petikan langsung dalam kalimat.
Contoh: Kata Adik, "Saya senang sekali."

7. Untuk pemisah antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan dalam sebuah kalimat.
Contoh: Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya, Jalan Veteran no. 1, Malang.

8. Untuk penulisan daftar pustaka, 'tanda koma' untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya
Contoh: Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

9. Di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10. Untuk pemisah antara nama orang dan gelar akademik.
Contoh: B. Ratulangi, S.H.

11. Untuk pemisah angka dengan pecahan. Juga antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Contoh: 12,5 cm dan Rp. 2.500,00
12. Untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Contoh: Guru saya, Pak Andi, pandai sekali.
13. Untuk pemisah keterangan pada kalimat, yang terletak di depannya. untuk menghindari salah baca.
Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.


Wah, banyak ya manfaat penggunaan 'tanda koma'. Sudah ga bingung kan? Jangan khawatir, penggunaan 'tanda koma' bisa suka-suka penulis, kok. Semua sudah kita ketahui di atas. 'Pe-de' aja ya. Moga bermanfaat! 😊 

Sumber foto: Google
(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…