Skip to main content

Yuk, Menulis Santai ala J.K. Rowling



Penulis J.K. Rowling ini, cukup terkenal lho? Kalian pasti sudah pernah mendengar karyanya kan? Karyanya sudah dibuat film yang bombastis. Ada yang tahu apa judulnya? Yaaa, judulnya Harry Potter!

J.K. Rowling ini memiliki nama panjang Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling. Lahir tanggal 31 Juli 1965 di Yate, Gloucestershire Utara, Inggris. Saat ini umurnya 55 tahun. Buku Harry Potter ini merupakan karya novel fantasi yang diminati kalangan remaja. Prestasinya pada karya Harry Potter ini sangat luar biasa. Dapat mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar New York Times best-seller. Dan di seri ke-4 Harry Potter dan Piala Api (terbit Th. 2000), seri ini menjadi buku paling laris penjualannya dalam sejarah dunia.

Buku yang dibuat oleh J.K. Rowling tentang Harry Potter memiliki beberapa judul, antara lain:
Seri ke-1 : Harry Potter and the Philosopher's Stone
Seri ke-2 : Harry Potter and the Chamber of Secrets
Seri ke-3 : Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
Seri ke-4 : Harry Potter and the Goblet of Fire
Seri ke-5 : Harry Potter and the Order of the Phoenix
Seri ke-6 : Harry Potter and the Half-Blood Prince
Seri ke-7 : Harry Potter and the Deathly Hallows

Setelah selesai mengarang buku ke tujuh tersebut, J.K. Rowling tidak akan menyambung lagi seri itu dan akan mengarang suatu genre yang baru. Judul Harry Potter and the Sorcerer’s Stone diangkat ke layar lebar dan film tersebut telah memecahkan rekor dengan keuntungan sekitar 93,5 juta dolar AS. Wah, benar-benar angka yang fantastis.

Ngintip gaya menulis ala J.K. Rowling ternyata sederhana lho. Yaitu : “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”.

Sepertinya mudah sekali untuk kita adopsi yaaa. Tentunya kita semua pasti melalui bertahun-tahun kehidupan. Di antara kita ada yang berusia belasan tahun, dua puluhan tahun, tiga puluhan dan seterusnya. Pesan J.K. Rowling ini sangat mudah dipahami. Mulailah menulis dari apa yang kita alami. Menulislah dari apa yang kita rasakan. Cobalah untuk sesering mungkin menulis. Cobalah menulis minimal sekali dalam sehari. Percayalah, karya yang kita tulis, hari demi hari akan bermetamorfosis. Pasti ada saja perbedaan dalam tiap karya. Baik itu gaya menulis, tema, perasaan, sensasi, dan tentunya pilihan kata yang digunakan.

Daan, suatu saat terahir kali kita menulis, kita akan tertawa dengan gaya penulisan masa lalu kita. Bukan hanya karena terlihat banyak kekurangan. Tapi lebih pada memori, yang memunculkan tawa. Memori semangat yang melatarbelakangi saat-saat menulis karya itu. Kehadiran jiwa dalam setiap kenangan itu, memunculkan semangat dan optimisme. Bahwa menulis merupakan anugerah untuk menjadi fasilitas kebahagiaan seseorang.

Selamat berbahagia teman-teman penulis. Hobi kalian untuk menulis ini, sangat luar biasa. Yuk, start menulis ala J.K. Rowling!

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)


Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…