Skip to main content

Hari Buku Nasional: FAM Palembang Diskusi Daring Literasi Politik



FAM Cabang Palembang menggelar diskusi daring bersama Ketua Bawaslu Sumatera Selatan dan Jurnalis sekaligus Pegiat Literasi Politik, di tengah pandemi covid-tepat di Hari Buku Nasional, Minggu (17/5) pukul 16.00 hingga 17.15 WIB kemarin. Diskusi disiarkan langsung melalui akun Instagram @fampalembang dan dipandu oleh Pipit (ID FAM 4062 U) bertema "Literasi Politik: Di mana Posisi Literasi dalam Sekolah Kader Pengawasan Partisipatif (SKPP)?"

Ketua Bawaslu Sumsel, Iin Irwanto menuturkan pentingnya literasi dalam politik Indonesia. Hal ini sebagai salah satu upaya menghindari dan menghapuskan kecurangan yang banyak terjadi dalam pemilihan umum. Terlebih pada tahun ini, Indonesia akan menyelenggarakan Pilkada serentak. Untuk itu ia mengharapkan kader pengawasan partisipatif yang telah mengikuti proses pembelajaran dalam jaringan (daring) tersebut, bisa menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat, khususnya pemilih milenial.

Fathurrohman atau akrab disapa Bung FK, Blogger, Jurnalis dan Pegiat Literasi Politik , mengharapkan agar peserta SKPP dibekali dengan kemampuan menulis. Terlebih menurut dia, dengan adanya media sosial saat ini sangat mendukung untuk menyampaikan edukasi dan pemahaman kepada kaum milenial dan masyarakat luas, melalui tulisan.

Saat ini Bawaslu Sumsel sendiri telah menerbitkan lima judul buku sebagai pendamping bagi peserta SKPP. Meningkatnya antusiasme peserta SKPP daring tahun ini, memberi peluang bagi Bawaslu Sumsel untuk menambah judul buku lebih banyak dan lebih edukatif, untuk disebarluaskan kepada masyarakat. Selain itu, Bawaslu juga telah menerbitkan Buletin yang disebarluaskan kepada masyarakat. Inilah salah satu bentuk literasi politik yang positif dan dapat diikuti semua kalangan, terutama kaum milenial dengan usia di bawah 30 tahun.

Penulis sendiri berharap, agar kader pengawasan partisipatif juga dibekali dengan materi jurnalistik, yakni pengecekan fakta (cek fakta) sehingga bisa menjadi tameng untuk memutus mata rantai penyebaran hoaks. Hal ini disepakati oleh Bung FK, mengingat penyebaran informasi hoaks masih saja banyak terjadi. Apalagi dengan kemunculan banyak media massa dan media sosial, tentu ini menjadi PR kita bersama dalam menyebarkan literasi politik, baik melalui tulisan atau puisi, dan video.

Diskusi daring, Minggu (17/5) kemarin menjadi momen yang tepat untuk merayakan Hari Buku Nasional. Sebagaimana yang kita yang kita tahu, literasi telah membawa dampak yang positif di tengah masyarakat dalam berbagai aspek, khususnya aspek politik yang tidak bisa kita lepaskan. Pun sebagai bahan perenungan, bahwa membaca tidak hanya lewat buku tetapi juga membaca kondisi, situasi, politik, dan lainnya. Menulis tidak hanya tentang puisi, pendapat pribadi, tetapi juga tentang hiruk-pikuk negeri beserta ironinya sebagai pembelajaran bagi kita bersama. (Pipit)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…