Skip to main content

Inspirasi Menulis dari Ernest Hemingway


Pernahkah Anda membaca The Old Man and the Sea? Bacaan ini dan penulisnya cukup populer.  Dialah Ernest Hemingway, Seorang penulis kontemporer Amerika Serikat. Penulis yang memiliki nama panjang Ernest Miller Hemingway ini adalah seorang novelis, pengarang cerita pendek, dan wartawan Amerika. Ernest Hemingway lahir tanggal 21 Juli 1899 di Oak Park, Illinois, Amerika. Dan meninggal di usia 62 tahun.

Beberapa karyanya yang populer antara lain The Old Man and the Sea, For Whom the Bell Tolls, A Farewell to Arms, The Sun Also Rises, A Moveable Feast, cerpen : Hills Like White Elephants, dll.

Gaya penulisan Ernest Hemingway cukup khas. Umumnya bercirikan artikel minimalisme yang singkat dan dengan gaya low profile dari keadaan sebenarnya. Gaya tulisannya itu cukup mempunyai pengaruh yang penting terhadap trend perkembangan karya fiksi kalangan remaja dan dewasa di abad ke-20an. 

Pesan Ernest Hemingway yang pernah disematkan dalam karya bukunya yaitu “Setiap hari adalah hari yang baru. Keberuntungan memang baik, tetapi Aku tidak hanya akan mengandalkan itu. Jadi ketika keberuntungan datang, Kau sudah siap”.

Pada kutipan pesan di atas, Ernest Hemingway berbicara soal keberuntungan dan nasib. Maksud dari pesan di atas, selain berharap keberuntungan memihak kita, kita juga berusaha untuk memantaskan diri untuk menjemput keberuntungan itu. Setiap manusia, termasuk Anda bisa saja beruntung dalam beberapa hal. Tetapi, jika hanya menunggu keberuntungan datang, hal itu bukanlah tindakan yang tepat. Anda juga memerlukan usaha dan kerja keras untuk meraih apa yang diinginkan. Suatu saat, Anda akan mendapatkan keberuntungan yang dinilai sepadan dengan usaha Anda. Seperti halnya dalam menulis. Keberuntungan dan hasil menulis, tidak akan mengkhianati proses usaha menulis yang Anda lakukan. Yah, kurang lebihnya pesannya demikian.

Pesannya sederhana yaa? Intinya bekerja keraslah. Keberuntunganmu akan datang sepadan dengan usahamu. Bagaimana pendapat teman-teman tentang pesan sederhana Ernest Hemingway ini? Pesan ini merupakan rahasia dibalik kesuksesannya, lho. Teman-teman penulis, setuju kan? Pesannya juga memberikan moral bagi kita untuk yakin terhadap penilaian dari Sang Pengatur Kehidupan. Semangat yaaa…! 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…