Skip to main content

Pantang Menyerah dalam Menulis Ala Eka Kurniawan


Eka Kurniawan, siapa yang tidak mengenal sosok dirinya. Penulis berwawasan luas dan mempunyai bakat hebat tersebut sempat dibicarakan sebagai penerus Sang Maestro Sastrawan Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer. Tapi, semua itu tidak didapatnya begitu saja. Setelah proses panjang, akhirnya ia bisa memposisikan dirinya sebagai penulis dunia.

Banyak pepatah berkata “Banyak jalan menuju Roma”. Hal itu sama halnya dengan keinginan, banyak cara untuk mencapainya. Begitu juga dengan Eka Kurniawan. Salah satu penulis hebat dari Tasikmalaya, Indonesia. Meskipun ia ditolak dari 4 penerbit di Indonesia, apakah Eka Kurniawan menyerah begitu saja? Tidak.

Eka Kurniawan tidak patah semangat begitu saja. Ia terus mencoba dan mencari jalan lain agar novelnya bisa diterbitkan dengan layak. Novel “Cantik Itu Luka” bisa dikatakan karya yang mujur, karya fenomenal yang pernah ditelurkan oleh Eka Kurniawan. Pasalnya, novel tersebut sukses diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing. Artinya sudah diterbitkan hampir di 34 negara di dunia. Meskipun bukan novel pertamanya yang diterbitkan, novel tersebut telah melejitkan namanya setelah penolakan dari 4 penerbit dalam negeri. Kemudian ia mencoba mengajukan ke penerbit lagi setelah novel selanjutnya rilis, Lelaki Harimau. Akan tetapi, novel tersebut tetap menjadi pertama dalam memulai karirnya di dunia kepenulisan.

 Eka Kurniawan sangat percaya pasti ia bisa. Kalian sebagai penulis tentunya tak mau kalah dengan semangatnya Eka Kurniawan, kan? Semoga bisa menginspirasi untuk kalian, para penulis hebat. Salam kreatif, semoga bermanfaat. 😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…