Skip to main content

Profil Penulis: Abdul Rahman Nasir, S.Pd.Ek., S.E. (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Limabelas di FAM Publishing Berjudul “Goresan Tinta Seorang ASN”)


Abdul Rahman Nasir adalah warga Toboali Bangka Selatan. Lahir di sebuah dusun terpencil di Jambi, Simbur Naik, Tahun 1983. Kemudian dibesarkan orangtuanya di Pulau Timah, Bangka, tepatnya kota Toboali Bangka Selatan.
       
Mengenyam Pendidikan di kota Toboali-Bangka Selatan sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Lanjutan Atas. Dan Perguruan Tinggi dilanjutkan di Kota Palembang, mengambil spesilisasi keahlian diploma 3 perbankan.
Setelah menyelesaikan pendidikan perbankan, penulis bekerja di sebuah bank nasional milik pemerintah yang berbasis syariah, sebagai karyawan magang yang disalurkan kampus atas penghargaan lulusan terbaik pada angkatannya. Namun, hanya bertahan selama 3 bulan di masa uji coba. Dan kemudian kembali ke kampung halamannya, Toboali-Bangka Selatan.
Di Toboali, bukannya mencari pekerjaan sesuai dengan keilmuannya. Justru mencoba menawarkan diri pada sebuah sekolah swasta untuk menjadi tenaga administrasi. Gayung bersambut, pihak sekolah menerimanya. Namun, bukan sebagai tenaga administrasi melainkan sebagai tenaga pendidik yang akan mengisi kekosongan guru yang pindah tugas.

      
Tantangan diterima dan dilakoni dengan suka cita.
Merasa nyaman menjadi bagian dari dunia pendidikan, penulis kemudian mencoba melanjutkan pendidikan dan memutuskan  melanjutkan pada perguruan tinggi yang memberikan kebebasan kuliah sambil bekerja, yakni Universitas Terbuka (UT). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Ekonomi pilihannya dan dinyatakan lulus dalam waktu yang cukup lama disebabkan harus meninggalkan profesinya sebagai tenaga pendidik dan melanjutkan sebagai Abdi Negara pada Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan setelah berhasil dalam seleksi penerimaan CPNS.


      Setelah ditempatkan sebagai Abdi Negara pada Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Selatan, penulis tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai tenaga pengajar di tempat kerjanya semula diluar jam kerja sebagai PNS, karena kecintaannya pada dunia pendidikan. Dan disela-sela aktivitasnya, tak lupa meluangkan waktu sekaligus mengasah kemampuan menulis, terkadang tulisannya dimuat dimedia baik media online maupun media  cetak seperti Bangka Pos, Rakyat Pos yang terbit harian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan tentunya pada blog pribadinya.
Di antara tulisan-tulisannya yang pernah dimuat media dan diantaranya dirangkum dalam buku ini: Mutasinya Pajak Pusat ke Pajak Daerah (Bangka Pos: 2013), Pajak Daaerah dan Urgensinya (Bangka Pos: 2013),, BPHTB dalam sertifikasi Tanah dan Bangunan (Bangka Pos: 2014), Pajak Rokok dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Bangka Pos: 2015), Menelisik Peruntukan PPJ (Bangka Pos: 2017), Pajak dari dan untuk Kita (Rakyat Pos: 2017), Pungutan Parkir, Pajak atau Retribusi? (Rakyat Pos:2017).

     
Penulis juga pernah dinobatkan sebagai peringkat 1 pada Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa Fakutas Ekonomi Universitas Terbuka tahun 2016, saat menyelesaikanl pendidikan Strata 1 Jurusan Ekonomi Pembangunan.
Selain menulis artikel di media-media cetak dan juga media online, Bapak dari seorang anak dengan seorang istri yang bernama Aci Mamingsih ini juga menulis berbagai cerita pendek (cerpen), cerita mini, dan Cerita kehidupan dan pejalanan. Beberapa cerpen dan cerita mini telah dimuat dalam antologi cerpen, seperti: Antologi Ganjaran bagi Si Pemilik Nama yang Membusuk (FAM; 2018), Antologi Fiksi Mini Nostalgia (Jejak; 2018), Antologi Cerpen Senyum Laki-Laki yang Hilang (Antariksa: 2018)
Aktifitas sehari-hari dan tulisan-tulisan penulis dapat dipantau melalui media sosial facebook: Abdul Rahman Nasir, Instagram: abdul_rahman_nasir, Twiter: @Abdulrahman_hbg, blog: ahman0307.blogspot.com, dan channel Youtube: AR Lentera.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…