Skip to main content

Profil Penulis: Gede Putra Adnyana (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Limabelas di FAM Publishing Berjudul “Hati-Hati dengan Ogoh-Ogoh Itu”)


Gede Putra Adnyana lahir di Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali pada tanggal 1 Desember 1968. Lahir sebagai anak pertama dari pasangan Bapak Wayan Kondera (Alm.) dan Ibu Wayan Sukanadi. Menikah dengan Kadek Aswini dan dikaruniai tiga anak, yakni Luh Putri Adnyani, Kadek Diastra Adnyani Putri, dan Komang Tris Astra Putri Adnyani.
   
  Pendidikan sekolah dasar diselesaikan pada tahun 1981 di SD No. 1 Banyuatis. Melanjutkan pendidikan pada SMP Negeri Tabog, Banjar, Buleleng dan tamat pada tahun 1984. Sekolah menengah atas ditamatkan tahun 1987 di SMA Negeri Seririt, Buleleng. Melanjutkan studi di FKIP UNUD Singaraja pada Program Studi D3 Kimia dan tamat tahun 1990. Studi tingkat sarjana (S-1) ditamatkan tahun 1994 pada Program Studi Pendidikan Kimia di STKIP Negeri Singaraja. Kemudian, menempuh pendidikan pascasarjana (S-2) di Universitas Pendidikan Ganesha pada Program Studi Administrasi Pendidikan dan tamat tahun 2011.
Diangkat menjadi PNS pada tahun 1991 dan saat ini sebagai guru pada SMAN 1 Banjar, Buleleng, Bali dengan pangkat Guru Pembina Tk. I, golongan IV/b. Selama karirnya, pernah menjadi Instruktur Sosialisasi KBK Tingkat Kabupaten Buleleng (2002), Nara Sumber pada Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dan Mutu Pembelajaran Kimia di Disdikpora Kabupaten Tabanan (2009), dan Penyaji pada Forum Ilmiah Guru di LPMP Bali (2015).


     Beberapa tulisan berupa esai pernah dimuat pada media massa, seperti Bali Post, Tabloid Pendidikan Indonesia, dan Tabloid Imob Educare. Karya tulis berupa artikel ilmiah, dimuat pada beberapa Jurnal Ilmiah, seperti Jurnal Kerta Mandala, Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, dan Jurnal Ilmiah Nasional Rausyan Fikr. Menulis buku dengan judul Kebinekaan dalam Bingkai Kearifan Lokal (Eksistensi Kearifan Lokal Bali di Tengah Keberagaman) yang diterbitkan oleh Penerbit Deepublish.
Terlibat aktif dalam berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, sebagai Ketua BP3 SD N0. 1 Banyuatis (2000-2002); Sekretaris PGRI Cabang Kecamatan Banjar (2001-2007); Sekretaris MGMP KIMIA Kabupaten Buleleng (2003-2006); Tim Penyunting Artikel Jurnal Kerta Mandala Kabupaten Buleleng (2008-2016); Ketua IKA-KIM Kabupaten Buleleng (2009-2011); Ketua MGMP Kimia Kabupaten Buleleng (2010-2013); dan Penyarikan/Sekretaris Prajuru Desa Pakraman Banyuatis, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali (2015-2020).

      
 Beberapa prestasi atau penghargaan yang pernah diraih, yakni Juara I, LKTI Guru SMA/SMK Se-Kabupaten Buleleng (2004); Juara II, LKTI Guru Se-Bali (2005); Finalis Simposium Nasional III Inovasi Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah (2005); Finalis LKG dalam Pembelajaran Tingkat Nasional (2005); Juara II, LKT Guru SMA Se-Bali (2006); Juara I, LKTI Guru SMA Se-Bali Program TPSDP-P3AI Undiksha (2007); Juara I, LKTIG SMA/SMK Se-Kab. Buleleng, Disdik Kab. Buleleng (2007); Juara I, LKTI Guru Se-Bali (2008); Finalis Lomba Esai Tingkat Guru SMA/SMK Se-Bali (2009); Pemenang II, Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tingkat Nasional (2011); Juara III, Lomba Blog “Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI” Tingkat Nasional (2012); Nominasi Jurnalis Award Bali (2013); Nominasi Terbaik I, Bimtek KTI (Karya Inovatif) (2015); Finalis Lomba Penulisan Best Practice Guru Pendidikan Menengah Tingkat Nasional (2015); Finalis Lomba Penulisan Naskah Buku bagi Guru Pendidikan Menengah (2017); Finalis Lomba  Menulis Pendidikan Inklusif Tingkat Nasional (2018); dan Pemenang I, Lomba Menulis Artikel Pendidikan Inklusif Tingkat Nasional (2019).

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…