Skip to main content

Profil Penulis: Noer Ima Kaltsum (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Limabelas di FAM Publishing Berjudul “30 Hari 30 Kata”)


Noer Ima Kaltsum lahir dan dibesarkan di kota Yogyakarta. Kegemarannya menulis dimulai sejak SMA tahun 1989. Berawal dari sebagai penulis cerita anak, Ima, demikian panggilan akrabnya kemudian mencoba untuk menulis genre yang lain. Selain cerita anak, tulisan yang sering dimuat di Koran Solopos adalah cerita humor dengan tokoh Jon Koplo. Dari situlah, Ima mendapat julukan The Queen of Ngoplo di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis Solo Raya.

Sebagai ibu rumah tangga dan memiliki 2 orang anak, Ima telah menerbitkan buku solo secara indie berjudul “Menjadi Kaya Dengan Menulis”. Beberapa waktu kemudian Ima menjadi kontributor buku-buku antologi. Buku “Ngeblog Seru Ala Ibu-Ibu” adalah salah satu buku antologi yang ditulis bersama bloger yang bergabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (Pusat).
Selain aktif di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis, Ima juga bergabung di komunitas menulis “Temu Penulis Yogyakarta” atau disingkat TPY. Bersama penulis TPY, Ima menjadi kontributor buku anak berjudul “Dongeng 100 Kota” diterbitkan oleh Penerbit Laksana tahun 2019.  

Menulis dilakukan Ima dengan tujuan untuk berbagi manfaat. Ima biasa membagikan tulisannya yang ditulis dengan hati di akun facebook, blog pribadi, dan instagram. Dalam beberapa kesempatan Ima membagikan pengalamannya menulis dari nol sampai sekarang. Kadang-kadang Ima meluangkan waktunya untuk teman-teman penulis pemula yang ingin menulis secara aktif.
Hingga sekarang Ima terus berbagi tulisan dan berbagi manfaat. Berbagi manfaat melalui tulisan, Ima berharap banyak orang yang mengikuti jejaknya. Kini Ima tengah menyiapkan naskah calon buku solonya dengan tema Haji.

Bagi teman-teman yang ingin mengintip tulisannya, bisa berkunjung di FB: Noer Ima Kaltsum, IG: noerima.kaltsum, blog: www.noerimakaltsum.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…