Skip to main content

Profil Penulis: Revi Asneli (Penulis Buku Terpilih Terbit Gratis Tahap Limabelas di FAM Publishing Berjudul “Kepingan Rindu Lian”)




Revi Asneli, lahir di Tanjung Karang, Bandar Lampung Provinsi Lampung, 10 Juli 1982. Menempuh Pendidikan Sekolah dasar di tiga sekolah SDN 1 Tanjung Gading, SDN. O8 Pariaman dan berakhir di SD. Madisiwi II Padang, tamat tahun (1995), kemudian dilanjutkan di SMPN 2 Pariaman (1995 – 1998) kemudian menjalani pendidikan menengah atas di SMA 1 Pariaman (1998 – 2000). Kuliah S1 di IAIN Imam Bonjol Padang Jurusan Muamalah Fakultas Syariah (2000 – 2004). Melanjutkan S 2 di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogyakarta (2015 – 2017).

Kini penulis bertugas sebagai guru di SD Unggul Terpadu Padang Pariaman. Selain mengajar penulis juga aktif di beberapa organisasi profesi. Sebagai Guru PAI penulis aktif di AGPAII (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia) Padang Pariaman sebagai coordinator bidang Penelitian dan Pengembangan. Dalam organisasi PGRI, penulis adalah sekretaris LKBH PGRI Provinsi Sumatera Barat. Penulis juga juga bagian dari Tim Motivasi Kemenag Padang Pariaman, memberikan training motivasi belajar di sekolah-sekolah yang ada di Padang Pariaman dan sekitarnya.

Wanita yang menikah dengan seorang pria yang bernama Mas Mulyadi, SHI pada tahun 2007 ini telah dikaruniai tiga orang anak. Miftah Ar Raziq Mubarak (2009), Mahdiya Zaskia Mulvi (2012), Maulana Ar RAfif Mubarak (2014).

Buku ini merupakan goresan-goresan hati  tentang kehidupan, cinta, keresahan dan kegalauan, semangat, motivasi dan tentang suara hati seorang hamba dihadapan sang Pencipta-Nya yang tertulis dalam bait-bait puisi, terkumpul dalam buku “Kepingan Rindu Lian”. Buku ini adalah buku keempatnya. Buku pertama penulis berjudul “Balas Dendam Terindah”, buku kedua “Diary Kehidupan”, buku ketiga “MC Cetar, Acara Lancar,” menjadi langkah yang akan terus berjalan dalam mengasah kemampuannya agar tak berhenti berkarya, menghasilkan yang terbaik. Penulis berharap semoga buku keempat ini bisa memberi manfaat dan inspirasi bagi pembaca.

Penulis bisa di hubungi lewat email: reviasnelii@gmail.com, Facebook: Revi Asneli, Instagram: reviasneli.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…