Skip to main content

Profil Penulis: Siti Munfiatik, M.Pd (Penulis Buku “Kebijakan Inovasi Pendidikan”)


SITI MUNFIATIK, M.Pd lahir di Banyuwangi, 24 Februari 1983. Putri dari bapak Imam Turmudzi dan Alm. Ibu Siti Musyarofah. Suami bernama Khabib Maslukhi yang dikaruniai dua  putra dan satu putri yaitu M.Najih Fakhry Labib,  M.Ataya Mutawakil Jabari dan Shaqueea Yumna. Penulis menempuh sekolah Madrasah Ibtidaiyah / MI Roudlatut Thalibin Kedung Gebang (1996), melanjutkan di MTS Miftahul Huda Tegalpare (1999), MA Miftahul Huda Tegalpare (2002). Setelah itu penulis menimba Ilmu di Pesantren Subulussalam Tegalsari Genteng Banyuwangi (2009). Pendidikan S1 diperoleh di STAI Sangatta Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (2015), gelar S2 diraih di IAIN Samarinda Jurusan Tarbiyah Progam Studi Pendidikan Agama Islam.

 Penulis merupakan pengajar aktif di SD Al-Ma’arif sampai tahun 2010, Tahun 2011-2012 sebagai pengajar di SD Negeri 001 Sangatta Selatan, Tahun 2013-2018 sebagai pengajar di SD Negeri 010, Tahun 2019 sampai sekarang aktif mengajar di STAI Sangatta Kutai Timur sekaligus sebagai salah satu Pengurus dan Ustadzah di Pondok Pesantren Daarus Shalah Kampung Kajang Sangatta Selatan Kutai Timur.

 Pelatihan yang pernah penulis ikuti workshop pembelajaran berbasis IT Bulan November 2013 di Sangatta, Pelatihan Implementasi Kurikulum K13 Bulan Desember 2013 di Samarinda, Bimbingan Tekhnis Implementasi K13 Bulan September 2015 di Sangatta, WorkShop Sekolah Model Bulan November 2016 di Sangatta, WorkShop Penulisan Karya Tulis Ilmiah Bulan Maret 20017 di Sangatta, Seminar Internasional bulan September 2017 di Malaysia, Pendidikan dan Latihan Penguatan Karakter (PPK) Bulan Januari 2018, WorkShop Desain Pembelajaran Standar KKNI dan SN Dikti Bulan Oktober 2019 di Sangatta, WorkShop Redesain Kurikulum Standar KKNI dan SNPT Bulan Oktober di Sangatta.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…