Skip to main content

Tak Perlu Bingung, Ini Bedanya Kata Depan dan Imbuhan


Pernah mengalami ketika sedang asyik menuliskan ide yang berhamburan, tiba-tiba terhenti hanya karena ragu dengan penulisan yang benar untuk kata depan dan imbuhan? Situasi seperti ini memang sering dihadapi oleh penulis, terutama penulis pemula. Kesalahan tersebut wajar, namun bukan berarti tidak ingin belajar untuk menulis dengan benar. Bukankah demikian?

Kata depan dan imbuhan, terutama untuk ‘di’ dan ‘ke’ memang terkadang membuat bingung dan ragu dalam penulisannya. Padahal keduanya memiliki arti dan fungsi yang berbeda. Kata depan adalah kata yang berdiri sendiri, memiliki arti sendiri, sehingga penulisannya pun dipisah dari kata selanjutnya. ‘Di’ sebagai kata dengan memiliki fungsi menunjukkan tempat, sedangkan ‘ke’ sebagai kata depan memiliki fungsi menunjukkan tujuan. Selain ‘di’ dan ‘ke’, contoh kata depan yang lain adalah ‘dari’ yang berfungsi untuk menunjukkan asal. Penulisan kata ‘dari’ pun dipisah dengan kata berikutnya.

Berbeda dengan kata depan, imbuhan ‘di’ dan ‘ke’ ditulis serangkai dengan kata dasar yang menyertainya. Imbuhan ‘di’ salah satu fungsinya sebagai tambahan untuk menunjukkan kata pasif. Contoh penulisan ‘di’ sebagai imbuhan antara lain: ditulis, dipukul, dimakan, dipuji, dan lain-lain. Sama halnya dengan imbuhan ‘di’, imbuhan ‘ke’ juga ditulis serangkai dengan kata dasar yang menyertainya. Contohnya: ketiga, kemauan (imbuhan ke-an), dan lain sebagainya.

Sederhananya, kata ‘di’ dan ‘ke’ yang diikuti kata-kata yang menunjukkan tempat atau tujuan, maka penulisannya dipisah. Ini yang dinamakan kata depan. Sedangkan untuk ‘di’ dan ‘ke’ yang penulisannya dirangkai dengan kata berikutnya, maka ini disebut imbuhan. Nah, sebenarnya mudah diingat, bukan? Hanya saja memang kita perlu berlatih dan membiasakan diri menulis sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain untuk menghindari kesalahpahaman, menulis dengan kaidah yang baik dan benar dapat menjaga kelestarian bahasa persatuan kita, yakni bahasa Indonesia.

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…