Skip to main content

Biarkan Buku Bicara


Judul: Biarkan Buku Bicara
Penulis: Dul Abdul Rahman
Kategori: Nonfiksi
ISBN: 978-623-7902-19-5
Terbit: Juni 2020
Tebal: viii + 90 hal: 14 x 21 cm
Harga: (dokumentasi penerbit/penulis)
Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher



“Kalau ingin bicara sepanjang zaman,
 maka menulislah,
karena buku adalah mulut
yang tak pernah bosan bicara”

(Dul Abdul Rahman,
Pada Sebuah Perpustakaan di Surga)

Semua orang yang bisa membaca sebenarnya bisa menulis. Menulis dan membaca memang adalah dua aktifitas yang tidak bisa dipisahkan. Untuk menulis, seseorang harus banyak membaca terlebih dahulu. Sebab ide, bahkan cara dan teknis menulis didapatkan dari keterampilan membaca. Jadi, menulis sejatinya adalah keterampilan mengungkapkan kembali gagasan atau ide yang ada dalam pikiran seseorang yang diperoleh dari kegiatan membaca.
Dalam hal menulis, yang paling menentukan adalah kemauan hati. Sebab tidak ada penulis instan, begitu belajar menulis langsung handal. Diperlukan kemauan dan tekad untuk terus menulis. Seorang penulis fiksi misalnya, banyak dari mereka memulai menulis lewat catatan harian. Dari ketekunan menulis diary tersebut, melahirkan kemampuan menulis naratif secara perlahan-lahan tanpa mereka
sadari.
Buku Biarkan Buku Bicara ini bukanlah berisi norma dan pranata tulisan. Bukan pula berisi panduan menulis. Tulisan-tulisan dalam buku ini hanya ingin membuktikan bahwa menulis itu tidak susah. Semua ide bisa jadi tulisan. Dan, semua tulisan bisa dibukukan.



*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.


[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Center: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…