Skip to main content

Goresan Tinta Seorang ASN




Judul: Goresan Tinta Seorang ASN

Penulis: Abdul Rahman Nasir, S.Pd.Ek., S.E

Kategori: Nonfiksi

ISBN: 978-623-7902-21-8

Terbit: Juni 2020

Tebal: viii + 113 hal: 14 x 21 cm

Harga: (dokumentasi penerbit/penulis)

Penerbit: FAM Publishing Bekerjasama dengan TS Publisher







“Menulis adalah  sebuah keberanian….” demikian ungkapan Pramoedya Ananta Toer yang seolah memberikan semangat kepada siapapun untuk berani mengungkapkan buah pikirnya dalam sebuah tulisan.

“…Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis….” ungkap salah satu sastrawan besar yang sering dipanggil Pram ini seakan menjadi cambuk bagi penulis untuk terus menggoreskan tinta pada sebuah tulisan  yang dikemudian hari terkumpul menjadi sebuah file-file, baik yang telah terpublikasi berbagai media online dan cetak maupun yang hanya menjadi koleksi pribadi.

Berprofesi sebagai ASN menjadikan penulis semakin terpacu untuk menuangkan ide-ide sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan dan tentunya dengan tema yang sejalan dengan tugas pokok dan fungsi penulis.

Salah satu tema tulisan dalam buku ini adalah Pajak Penerangan Jalan (PPJ). Tema ini ditulis saat di media sosial ramai diperbincangkan pengenaan PPJ setiap pembelian pulsa listrik, dan mayoritas pernyataan dan komentar tidak sejalan dengan regulasi yang ada. Sebagai tanggungjawab seorang ASN, tema diangkat untuk memberikan pemahaman pada masyarakat terlebih sesuai bidang pekerjaan penulis saat itu. Demikian juga, tema-tema yang lain muncul saat penulis melihat adanya ketidaksesuaian di masyarakat antara yang diharapkan dengan kenyataan.

Buku ini dapat dibaca semua kalangan, terutama yang membutuhkan referensi atau bahan bacaan terkait dunia perpajakan di daerah. Semoga bermanfaat!!!







*Buku tidak tersedia stok. Cetak sesuai pesanan.





[Info pemesanan dan penerbitan di FAM Publishing hubungi Call Center: 081350051745, atau melalui penulis. Bisa juga via email: aishiterumenulis@gmail.com, dan kunjungi web kami di: www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…