Skip to main content

Profil Penulis: Aulia Ainun (Penulis Buku Berjudul “Percakapan Hati”)


Aulia Ainun (Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 17 Januari) adalah seorang Bibliophile yang jatuh cinta dengan membaca sejak mulai mengenal huruf, karena alasan itu dia mulai menulis di mana tempat yang bisa dibaca orang; buku-buku tulis yang depannya bertulis macam-macam pelajaran, lalu disebarkan dari tangan ke tangan antar sesama teman kelas selama di sekolah menengah pertama. Bahkan sempat membuat majalahnya sendiri yang berisi karya tulisnya. Karena belum terkenalnya penerbitan di kota kecil tersebut karya-karya itu hanya sebentar ada lalu dijual begitu saja ke tukang loak.

Bertemunya dengan Forum Aktif Menulis tahun 2012 membangkitkan hobi menulisnya kembali. Setelah itu beberapa karyanya dipublikasikan dan dapat dinikmati secara gratis di laman blog-nya www.auli3ainun.blogspot.com, atau di status Facebook Aulia Ainun.

Dreamland Of Fantasy (Pustaka Jingga, Lamongan 2013) dan L.O.V.E? (AE Publising, Malang 2013) adalah dua antologi yang pernah diikuti. Sempat berhenti menulis lagi dan fokus pada pendidikan lanjutan di Pondok Pesantren, tahun 2017 mulaiah aktif di sosial media lagi, membawa #PercakapanHati sebagai novel solo perdana sebagai salah satu Penulis Indonesia. Pernah mengikuti KMO (Komunitas Menulis Online) angkatan 11 menjadikan semangat menulisnya semakin meningkat.

Menulis baginya bukan hanya memberi tahu orang lain tentang suatu pengetahuan tapi juga metode diri untuk instropeksi. Itulah kenapa ketika berhenti, kemudian memulai lagi untuk menulis.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…