Skip to main content

Bersikap Lega Memaafkan Berkat Menulis


Memaafkan bukanlah suatu hal yang sederhana untuk dilakukan. Apalagi jika kita sudah terluka terlalu dalam. Barangkali kejadian tersebut berbentuk sebuah kesalahan, yang juga menyebabkan kerugian, seperti luka fisik, hilang harta benda, atau pun menyebabkan hilangnya nyawa. Luka hati dan dalamnya sebuah kesedihan, sangat berbanding lurus dengan besarnya kerugian yang diakibatkan. 

Keajaiban dan manfaat menulis, bisa membantu Anda dalam me-‘recovery’ perasaan hati. Menulis ekspresif ternyata juga dapat berperan dalam proses memaafkan. Sebuah studi menyebutkan bahwa dengan menuliskan pengalaman traumatis tentang luka di hati yang lengkap dengan detailnya. Ternyata mampu untuk membantu seseorang memproses luka yang dirasakan. Memudahkan membuka hati untuk memaafkan kejadian. Dan berangsur-angsur menurunkan ritme kesal terhadap kejadian dan pelaku yang ada di kejadian tersebut.

Tidak perlu susah-susah untuk mulai menulis curahan hati Anda. Karena tidak ada aturan baku dalam penulisan ekspresif. Tulislah dengan ekspresi yang vulgar. Jika ingin teriak, tulislah “Aaaarrrghhhh”. Jika ingin menangis, tulislah apa yang Anda tangisi. Menulis semua gambaran emosi yang dialami dari peristiwa tersebut. Dituliskan semuanya termasuk apa yang menghalangi Anda untuk memaafkan orang yang terlibat di dalamnya. 

Dalam penulisan ekspresif, Anda tidak perlu memperhatikan ejaan atau tata bahasa layaknya menulis jurnal. Tidak perlu minder karena tulisan Anda yang jelek. Tak menjadi masalah. Yang penting tuliskan apa yang selama ini menjadi benang kusut di pikiran. Menulislah untuk merasakan berbagai keajaiban dan manfaat menulis bagi kesehatan mental. Termasuk perasaan lega dan memaafkan serta melupakan. Mengapa kita harus ‘move on’? Karena kejadian lalu dan pelaku yang terlibat, adalah bagian dari masa lalu. Kita harus optimis menatap masa depan. Semangat yaa...😊

Sumber foto: Google

(TIM PENULIS FAM)

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…